mrazandme

Jason Mraz and Raining Jane in Manila

Only few people know that i am a fan of Jason Mraz. And after two years just listen to him trough my iPod, last night i could listen to him LIVE. Woa…what an experience. Finally i understood why fans are always hysterical crying when meet with his/her idols…well, i didnt have tears, but i had goosebumps. Mmm,probably because the entry was really dramatic (thanks to Mona, Raining Jane); or probably because the song that i couldnt remember the title but i listen to it every now and then :p

Featured image

Well, when i was a teenager, i had some idols, mostly were singers and actress. But i’ve never had a chance to watchtheir concert or meet them in public or any situations. So, the memories are just that. Wait….i have seen a Taiwanese singer in Taipei, sang in a park. I like one (yes only ONE!) song, so when i saw him sang, i didnt have any feeling (my friend bought his album, got his signature and took photo with him). So, there….That’s it!

But with Mraz, it’s different (mmm..i sound like i’m falling in love haha). I listen to his songs since 2012 from my iPod. His Freedom Song is my Gym song, its push me to run more and more; Details in the Fabric is my song whenever i feel lonely and low; 3 little things song is my friend when i feel fails and the list doesnt stop there.

With me having lots of encouragement from his songs, i think he is success in spreading positivity to people through songs. Not every musician can “infect” this “virus” like he does. Because, its all depends on the life of the musician. So, here’s my theory: A contended person can produce a meaningful piece of art; because it comes from the heart and life experiences. I’ve seen it in many forms of arts, such as photography, film, writings, paintings and more….

That’s it! The lesson from the concert ^^

home!

A scene on June 2014: “Hey, i might be back, for good, next year!” i said to a friend – and i kept repeating same message to different friends in Jakarta. It was like i made an announcement, earlier!

In fact, at that time, i was just saying those words. Yes, i have had plan to leave Pinas for good in 2015. I felt, i have enough in this country; I didnt know what to pursue, anymore. So, i was thinking to back to work in my previous office and continue my career again as a broadcaster.

Then, sometime in August 2014, the certainty came to me. I have to leave Pinas on January 2015. And go to another Asian country. Waks…was it a coincidence or it’s God’s way?

Facing the reality in front of me is like i am dreaming: i thought i wanted this, but now i’m not sure if i want this. And started to think,”Aw i have many things to do here, my thesis…and my promises to somebody here…bla bla bla…”

But the decision has made. I need to leave on January 2015 and will come back again to defend my thesis and graduation.

I came here in Sept 2008 and now is Oct 2014, so i have been living in Pinas for more than 6 years.

It’s not a good bye. No, it is not. Because i cant say good bye to a home!

I

destructive thoughts

Having a baby is really a life-changing. I remember a friend of mine told me,”once you have a baby, for the next 20 years, your life is not yours anymore.” I don’t know, probably she’s right, i just being a mom for 5 months. so, i think it’s too early to make a conclusion. But yes, for the past 5 months, she’s really dependent on me.

Anyway, It’s not that topic that i want to share here. For the sake of my thesis (ggrrhh), i came back home to Jakarta to do data gathering. Well, i need to finish my thesis by next year. Actually, I enjoy school, even i feel happy though i have to enroll a penalty class next semester- because i passed a period to finish the program.

After meeting some of my respondents (all are female and CHinese-Indonesian), i feel empowered. You know, sometime, after having a baby, you feel life has ended because you need to take care the baby..bla..bla..or after you got married, you cant be free like when you are single. Yeah, i had that thought too. ehm…Not had, but i think i trapped on that thought.

But after talking to them, their courage is infected me. Yeah, i think i wanna go travel by myself and leaving them at house hehe. I hope i still have time to finish my unfinished works too. All plans that postponed because of having a baby and getting married. It will be unfair, right, if i dont do all of those things because i put those destructive thoughts on myself.

I need to start to think positive and feel like i can do whatever i want in this world, which is true…its only yourself and or society who said you can’t, right?

Keindahan yang Tersembunyi

 

Keindahan yang Tersembunyi

“Kumusta?” Ucapan ini cukup ramai diucapkan di kalangan Filipino; yang berarti: apa kabar?. Bila anda berkunjung ke Filipina, dan mendengar warga setempat menegur anda, anda cukup menjawab “mabuti naman, salamat po” yang artinya: “saya baik-baik saja, terima kasih”, dan biasanya mereka akan merasa dihargai, apalagi bila tahu bahwa anda adalah turis asing.

Sebagai negara tetangga yang cukup dekat dengan Indonesia, pariwisata Filipina jarang terdengar sampai ke bumi pertiwi. Padahal ada beberapa tempat pariwisata di negara ini yang sangat terkenal di dunia internasional, salah satunya adalah Boracay – yang termasuk dalam jajaran 10 pantai terindah sedunia, bersaing dengan pantai Myrtle di Carolina Selatan yang bertengger posisi teratas, beberapa pantai di kepulauan Hawai, Mexico dan Australia. Selain Boracay, ada satu tempat lagi yaitu Coron yang konon menurut warga Filipina, keindahan tempat ini sama dengan keindahan pantai Boracay sepuluh tahun lalu ketika masih asri dan belum komersil. Coron juga menjadi destinasi yang tepat bagi para penggemar wreck diving. Berikut adalah perjalanan saya menuju kedua tempat indah ini.

Perjalanan saya menuju Boracay adalah perjalanan pertama saya di negeri yang terkenal akan es halo-halo ini. Perjalanan ini sungguh di luar dugaan saya, untuk pertama kalinya saya naik pesawat baling-baling dengan jumlah penumpang hanya 32 orang dan saya harus menimbang berat badan beserta bagasi saya saat di konter cek-in. Menurut informasi, semua pesawat yang mendarat di Caticlan adalah pesawat baling-baling, karena ukuran bandara yang cukup kecil, sehingga pesawat sekelas Airbus dan Boeing tidak bisa mendarat disini. Perjalanan dari Manila menuju Caticlan ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam.

Setibanya di bandara Caticlan, saya masih harus menuju pelabuhan penyeberangan ke pulau Boracay, dengan menumpang tricyle yaitu moda transportasi lokal dengan motor yang berada di sebelah kiri dan kompartemen penumpang berada di sebelah kanannya; bentuknya menyerupai bentor atau becak motor yang berada di Indonesia. Perjalanan dengan tricycle cukup menegangkan bagi penumpang pertama kali seperti saya, karena medan jalanan yang sempit dan tidak menentu, terkadang menanjak, menurun ataupun berkelok tajam. Untuk mengalihkan rasa was-was, saya memusatkan perhatian pada kehidupan warga setempat yang saya lewati sepanjang perjalanan. Menurut pengamatan saya, kehidupan warga disini sangat mirip dengan kehidupan di pedesaan Indonesia, hanya saja disini mereka mengerti dan dapat bercakap dalam bahasa Inggris. Satu hal yang saya kagumi dari warga di sini adalah mereka sangat menaati peraturan dan peran pemerintah lokal dalam mengatur moda transportasi setempat patut diacungi jempol. Saya tidak menemukan adanya pungli ataupun biaya transportasi yang lebih mahal dibandingkan yang resmi, karena semua pembayaran harus melalui konter dan pengaturan serta antrian transportasi sangat lancar dan memudahkan pengunjung. Jadi, anda tidak perlu khawatir terhadap pungutan liar ataupun pemerasan terhadap turis asing.

Selepas turun dari perahu di pulau Boracay, saya masih harus menumpang tricycle sekali lagi menuju pusat keramaian Boracay yaitu White Beach. Begitu tiba di White Beach, seketika itu juga saya langsung jatuh hati. Pasirnya yang lembut dan putih bersih; air laut yang tenang dan jernih sungguh sebuah surga bagi penikmat pantai. Sebuah nilai tambah dari pantai ini adalah tidak ada karang ataupun batu koral, jadi anda bisa menapak hingga ketinggian air 1.50 meter tanpa khawatir menginjak karang, rumput laut ataupun satwa laut lainnya. Disinilah, anda bisa menikmati sensasi berenang di laut seperti berenang di kolam renang ditambah dengan ikan-ikan kecil yang ramah. Sesuai dengan namanya White Beach benar-benar pantai yang putih, bersih dan indah.

Salah satu hal yang saya nikmati selama berlibur di Boracay adalah berjalan kaki menyusuri pantai sejauh 4 km, saya membiarkan diri saya bergerak menurut intuisi. Di manapun saya ingin duduk menikmati pantai; berendam; makan; ataupun berbelanja, semuanya tanpa perencanaan dan mengalir ringan.  Karena di sepanjang garis pantai ini tersebar puluhan hotel, restoran, bar dan spa. Variasi makanan di tempat ini pun beragam, dimulai dari makanan laut yang masih segar; steak ala Barat; Korean food; Japanese food, Chinese food, atau Filipino food semua tersedia di lokasi ini. Sungguh sebuah kebebasan untuk memilih bagaimana menghabiskan waktu di pantai indah ini.

Saat hari menjelang senja, kontan suasana di sepanjang White Beach berubah menjadi lebih meriah. Setiap bar, restoran maupun toko cendera mata berlomba untuk memamerkan keunikannya masing-masing guna menarik pengunjung. Beberapa mencoba untuk membuat istana pasir dengan ukuran yang cukup besar, sebagai atraksi berfoto bagi pengunjung. Waktu senja, juga waktu yang tepat bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan sisi lain keindahan alam Boracay berpadu dengan geliat kehidupan modernitas. 

Malam hari di White Beach berarti waktunya untuk berpesta, jajaran bar dan restauran yang ada di tempat ini mulai ramai didatangi pengunjung. Hingar bingar musik; gelak tawa; maupun riuhnya para guest relation menarik pengunjung terdengar di setiap sudut. Beberapa restoran menyediakan menu makan sepuasnya dengan harga yang cukup terjangkau; sedangkan pengelola bar menggelar meja dan kursi kecil di pantai; sehingga memungkinkan pengunjung untuk bersosialisasi sambil menikmati halusnya pasir White Beach. Berpesta di White Beach memang berbeda, ditambah dengan desir lirih ombak dan semilir angin yang menambah kemeriahan pesta.

Selain menikmati pantai dan meriahnya berpesta di White Beach, pengunjung juga bisa menyewa perahu kecil untuk kebutuhan diving ataupun hopping island; dimana kita diajak untuk berkeliling pulau-pulau sekitar Boracay dan snorkeling di beberapa taman laut. Selain itu, kita juga bisa mengunjugi beberapa pantai lainnya yang berada di pulau Boracay, seperti Bulabog Beach, dimana kita bisa mencoba windsurfing; Iling-Iligan Beach, tempat yang tepat untuk melihat-lihat gua kelelawar; atau Baling-hai Beach, tepat bagi anda yang membutuhkan privasi berlibur sambil menikmati keindahan taman laut.

Boracay merupakan sebuah pulau kecil seluas 1083 hektar yang terletak sekitar 315 kilometer di sebelah selatan Manila. Dan sangat tepat untuk dikunjungi sekitar bulan November sampai Mei, dimana udara tidak terlalu panas dan tidak sering hujan, sehingga kita benar-benar bisa menikmati pantainya dengan maksimal.

Berlibur di Boracay adalah untuk siapa saja dan dari kalangan manapun, bila anda menginginkan liburan yang mewah, nyaman dan premium, anda bisa menyewa resort-resort kelas atas yang berada di seluruh pelosok pulau ini, atau bila anda ingin lokasi yang tak jauh dari White Beach, anda bisa memilih resort yang berlokasi di station 1. Lokasi ini adalah pusatnya akomodasi kelas berbintang. Kemudian station 2, ditujukan untuk turis dari kalangan menengah dan disinilah pusat keramaian Boracay, karena di daerah ini berjejer pusat informasi turis, restoran, bar, dan mall. Sedangkan Station 3 ditujukan untuk para backpackers dan budget traveler. Semua station ini terletak di sepanjang garis pantai White Beach, anda hanya tinggal memilih akomodasi dan sensasi liburan seperti apa yang ingin anda dapatkan. Sebagai informasi, kebanyakan para turis yang memilih untuk tinggal di station 3 adalah turis asing dari Negara Barat, sedangkan turis asing dari Asia lebih memilih tinggal di station 1 atau 2.

Saat itu saya memilih station 3, sebagai lokasi bermalam, karena harganya yang cukup murah; jauh dari pusat keramaian di station 2 dan yang terpenting adalah saya ingin merasakan langsung kehidupan tradisional warga setempat. Saya mendapatkan cottage tempat saya menginap dari Internet, dan yang membuat saya tertarik untuk tinggal disini adalah tema penginapan ini yaitu nipah dan bambu, serta layanan yang penuh dengan rasa kekeluargaan. Benar saja, selama tinggal di tempat ini saya merasakan suasana rumah yang penuh kehangatan, para staf yang ramah, relasi akrab dengan sesama tamu serta menu makanan lokal yang lezat. Berlibur di Boracay sungguh berkesan, bagi saya waktu serasa berhenti berputar, karena saya benar-benar merasakan kehidupan lokal yang santai ditambah dengan keindahan pantainya.

 

Coron Island: Keindahan yang belum terjamah.

Bila Boracay menawarkan keindahan pantainya beserta hiburan malam yang fun, Coron Island di Palawan Utara yang terletak di gugusan kepulauan Calamian menawarkan wisata alam dengan pesona pantai, danau serta taman laut yang masih asri dan jauh dari komersialisme. Coron juga terkenal sebagai salah satu lokasi diving terbaik dunia, karena di lokasi ini terdapat lebih dari dua belas buah reruntuhan kapal pengangkut logistik Jepang masa Perang Dunia II. Menurut sejarah, pada September 1944, sekitar Teluk Coron ini menjadi medan pertempuran antara U.S. Navy dan kapal kargo Jepang. Kala itu pasukan Jepang mengalami kekalahan dalam pertempuran di Teluk Manila, sehingga mereka terpaksa mundur ke beberapa wilayah untuk menghindar serangan dari Amerika dan salah satunya adalah Teluk Coron. Tak disangka, pasukan Amerika mengetahui gerak Jepang ini dan pada tanggal 24, pasukan Amerika melancarkan serangan tiba-tibanya dan mengakibatkan kapal-kapal logistik Jepang ini terbakar dan tenggelam. Reruntuhan-reruntuhan itulah yang kini menjadi lokasi diving menarik di kawasan Coron. Salah satu reruntuhan yang saya kunjungi adalah Skeleton Wreck. Reruntuhan ini masih bisa dilihat dari permukaan laut karena posisi tenggelamnya kapal ini adalah dengan lunas kapal menghadap ke atas. Ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung sisa reruntuhan kapal perang, ditambah dengan sejarah kelam peperangan, membuat saya merinding kala memasuki air pertama kali. Namun, keindahan terumbu karang serta ikan-ikan kecil berwarna-warni membuat ketegangan saya sirna, tergantikan dengan kekaguman.

Selain wreck diving, di Coron Island terdapat beberapa lokasi untuk cave diving. Untuk diving di tempat ini dibutuhkan keahlian khusus, karena tingkat kesulitan dan medan yang cukup menantang. Seperti di The Cave in Baracuda Lake dengan kedalaman melebihi 40 meter, pencahayaan yang hampir tidak ada serta kondisi air yang penuh lumpur menjadi sebuah lokasi untuk menguji keberanian. Atau diving di Barracuda Lake, dimana divers bisa melihat secara langsung ikan barracuda sepanjang 1,5 meter yang menjadi “raja” di danau ini.

Coron Island, memang disebut-sebut sebagai lokasi diving berkelas internasional, namun tempat ini juga memiliki keindahan dan pengalaman menakjubkan melalui danau dan pantainya yang berpasir putih. Salah satu tempat kesukaan saya adalah Kayangan Lake, yang dijuluki sebagai danau terbersih se-Filipina. Perjalanan menuju tempat ini sungguh tidak terduga, karena ternyata kami memasuki sebuah laguna tersembunyi, dimana airnya sangat biru dan jernih. Di laguna inilah, perahu kami berlabuh dan selanjutnya kami harus berjalan kaki menaiki sebuah bukit, dimana pihak pengelola telah menyediakan anak tangga, sehingga medan menjadi lebih mudah. Tepat di puncak bukit ini terdapat sebuah gua dan di spot inilah kita bisa menikmati pemandangan laguna ini secara lengkap. Setelah puas mengambil gambar, saya melanjutkan perjalanan saya menuju Kayangan Lake. Danau yang memiliki nama lain Blue Lagoon ini tersembunyi berada di tengah-tengah bukit berbatu kapur. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kontur danau ini beserta tebing kapur dan pepohonan. Untuk memfasilitasi pengunjung, pihak pengelola telah menyediakan sebuah pelataran dari rotan guna kenyamanan pengunjung. Usai meletakkan barang bawaan, saya pun segera terjun dan berenang sampai ke tengah danau. Air di danau ini sangat tenang dan bersih, di dasar danau pun saya tidak menemukan adanya bebatuan ataupun satwa lainnya, saya hanya menemukan beberapa kelompok ikan-ikan kecil yang bermain-main di sekitar tebing-tebing. Sungguh, sebuah sensasi berenang yang tiada tara. Saya cukup lama menghabiskan waktu di danau ini, untuk berenang dan menikmati kesunyiannya.

Setelah puas bermain di danau ini, saya segera kembali ke perahu dan disana awak perahu telah mempersiapkan makan siang di sebuah pondokan yang memang menjadi tempat peristirahatan. Walau hidangan yang disajikan hanyalah ikan bakar dan cumi, namun ditengah kesederhanaan ini berpadu dengan indahnya laguna Coron Island, mungkin inilah hidangan terlezat selama saya berlibur di Coron. Usai bersantap, kami diharuskan untuk membawa kembali semua sampah-sampah kami, sebagai upaya untuk menjaga Kayangan Lake menjadi sebuah danau yang tetap bersih walau sudah terekspos oleh turis.

Tujuan selanjutnya adalah Twin Lagoon, sebuah laguna kembar yang tersembuyi dan berada di balik sebuah bukit kapur yang bernama Calis Mountain. Untuk menuju laguna ini, saya harus memasuki sebuah celah kecil yang sempit, celah ini hanya bisa dilewati saat air tidak pasang. Bila air sedang pasang, maka dibutuhkan keahlian menyelam untuk memasuki laguna ini, karena sesungguhnya celah ini merupakan bagian dari Calis Mountain tersebut, hanya saja ada sedikit bagian yang tidak tertutup air.

Untuk mencapai ke dalam laguna, tidak ada jalan lain selain berenang tapi jangan khawatir karena tersedia pelampung keselamatan. Air di laguna ini tidak jernih, namun terlihat seperti berminyak, karena di tempat inilah terjadi pertemuan arus air panas dan dingin. Jadi jangan kaget, bila anda merasakan adanya perubahan air yang cukup drastis kala berenang di tempat ini. Ketenangan dan keindahan di dalam laguna cukup mempesona, bukit kapur yang menjulang tinggi beserta pepohonan yang rindang, ditambah dengan cara menikmatinya yang unik yaitu sambil mengapung menambah kaya sensasi tempat ini. Sungguh, pengalaman yang luar biasa.

Selain Kahyangan Lake dan Twin Lagoon yang sesungguhnya berada di satu pulau yaitu Coron Island, gugusan kepulauan ini juga menawarkan keindahan pantai pasir putihnya yang mempesona seperti di Banana Island, keindahan pantai ini menyaingi keindahan pantai Boracay, tapi tentu saja tempat ini masih jauh dari komersil sehingga cukup sepi dan asri. Menuju pulau ini ditempuh selama dua jam perjalanan dengan perahu boat dari Busuanga Island, pulau induk dari gugusan kepulauan ini. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka banyak pengunjung yang memutuskan untuk mendirikan kemah di tempat ini. Sehingga bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menjelajahi pulau ini beserta pulau-pulau di sekitarnya.

Wisata di Coron Island tidaklah terbatas pada wisata alam saja, namun juga wisata sejarah di Culion Island, tempat ini pernah menjadi tempat penampung penderita kusta terbesar di dunia. Karena di awal abad ke- 20, penyakit lepra menjadi ancaman serius bagi warga Filipina, sehingga pemerintah memutuskan untuk mengisolasi penderita di sebuah tempat terisolir dan dipilihlah Culion Island. Pada tahun 1903, ada sekitar 16.000 pasien kusta disini, menjadikan tempat ini sebagai sanatorium terbesar sekaligus pusat penelitian lepra bagi para dokter. Kini, di pulau ini kita bisa menyaksikan kehidupan warga setempat yang mayoritas adalah keturunan dari pasien lepra yang kemudian menetap dan membentuk keluarga baru, tentu saja saat ini sudah tidak ada penderita lepra lagi di tempat ini. Selain sejarahnya yang menarik, di tempat ini masih ditemukan bangunan bergaya Spanyol seperti Culion Church dan Culion Fort yang masih terjaga dan kokoh berdiri.

Salah satu tetangga Culion Island adalah Calauit Island yang merupakan Wildlife Sanctuary untuk satwa endemic Filipina serta beberapa satwa dari Afrika seperti jerapah, zebra dan kijang Afrika dan lainnya. Di tempat seluas 3700 hektar ini kita bisa menyaksikan satwa tersebut hidup di alam bebas dengan sedikit sekali campur tangan manusia. Sangat menarik untuk dikunjungi bagi pecinta satwa dan alam bebas.

Menutup rangkaian wisata saya di Coron Island, saya mengunjungi Mount Tapyas, inilah puncak tertinggi di Busuanga Island dan kita bisa menyaksikan keindahan gugus kepulauan Calamian. Satu hal yang menarik mengenai Mount Tapyas ini adalah untuk tiba ke puncaknya kita harus menaiki 700 anak tangga. Namun, di setiap 100 anak tangga yang kita lewati, pemandangannya cukup spektakuler, membuat kita penasaran dengan bagaimana pemandangan di puncak gunung ini.

 Published on Panorama magazine, 2011

Black Nazarene

Kerap kali, ketika konsep agama telah menyatu dengan budaya setempat, konsep iman menjadi dipertanyakan: apakah ini adalah murni aktivitas budaya ataukah sebuah refleksi dari keimanan seseorang kepada Tuhan.

Di Filipina, Black Nazarene atau Yesus Hitam dianggap sebagai patung Yesus yang bisa menciptakan mujizat bagi siapapun yang percaya padanya. Kepercayaan ini telah terbentuk sejak masa jajahan Spanyol, sekitar tahun 1700an. Sekarang, patung ini disimpan di the Minor Basillica of the Black Nazarene di Quiapo, Manila.

Setiap satu tahun sekali, patung Black Nazarene diarak keluar gereja. Prosesi yang dianggap sakral ini dilakukan guna memperingati hari dimana patung Black Nazarene dipindahkan ke tempatnya yang sekarang. Sekaligus, memberikan kesempatan bagi publik untuk menguatkan keimanan mereka terhadap yang Kuasa. Prosesi “The Traslacion of Black Nazarene” atau Perjalanan Sang Yesus Hitam telah berlangsung selama 200 tahun tanpa terputus. Setiap tahunnya acara ini dihadiri oleh jutaan pemujanya, dan menjadi salah satu festival terbesar di Filipina. Di tahun 2013 ini, pemerintah setempat mengklaim ada 10 juta orang yang berpartisipasi.

Guna mempertahankan tradisi, patung Black Nazarene yang berukuran tubuh manusia, diletakkan pada sebuah kereta yang ditarik menggunakan dua utas tali sepanjang 50 meter oleh tenaga manusia. Sebagai bentuk kerendahan hati, para penarik kereta ini diharuskan untuk bertelanjang kaki. Tentu bukan hal yang mudah, karena mereka harus berjibaku dengan jutaan pengikut yang ingin menyentuh sang Black Nazarene. Biasanya prosesi ini berlangsung selama 20 jam dengan mengikuti rute tradisional yang sama selama bertahun-tahun.

Kepercayaan setempat mengatakan, apabila seseorang mampu menyentuh patung ini, niscaya mujizat atau harapan akan menjadi nyata. Maka, banyak dari mereka yang menggunakan handuk atau kain sebagai medium untuk diusapkan ke patung ini, agar mujizat dari patung ini bisa tertular. Kepercayaan inilah yang membuat situasi prosesi selalu panas dan tegang, setiap orang berebut untuk menaiki kereta yang membawa patung Black Nazarene. Bahkan, di catatan tahun-tahun sebelumnya, korban meninggal sering berjatuhan.

Erica, 18 tahun, mengatakan dengan mengikuti prosesi ini ia berharap mendapat lebih banyak berkat untuk tahun-tahun mendatang. Lain lagi dengan Grace, 40 tahun, dengan penuh haru ia hikmat berdoa agar penyakit jantung yang telah dideritanya selama kurang dari satu tahun ini bisa sembuh. Dari beberapa orang yang saya tanyai, mayoritas mengatakan harapan mereka adalah agar mendapatkan berkat dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan yang baik dan kondisi ekonomi yang meningkat. Jika ingin ditarik lebih jauh, fenomena ini bisa dikaitkan dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Filipina. Data statistik di tahun 2011 untuk negara berpenghuni 94,8 juta jiwa ini menyatakan 49% keluarga berada di kalangan tidak mampu. Wajarlah, bila mereka mengharapkan adanya perbaikan dalam hidup dengan berdoa pada sosok yang dipercaya mampu melahirkan mujizat.

Kepercayaan akan mujizat yang dimiliki oleh Black Nazarene pun ditularkan dari generasi ke generasi. Dalam acara yang bisa dibilang cukup rawan dengan insiden ini, banyak orang tua yang sengaja membawa anak-anak mereka. Anak-anak ini, ada yang sekedar berpartisipasi, ataupun diperbantukan untuk mengusap patung replika dengan handuk-handuk yang dilemparkan.

Setiap kali menjelang diselenggarakannya prosesi sacral ini, perdebatan di kalangan gereja berlangsung. Sebagian menentang acara ini, karena dianggap sebagai pemujaan berhala. Namun pernyataan dukungan pun juga mengalir. Monsignor Jose Clemente Ignacio, seorang rektor dari the Minor Basilica of Black Nazarene, menyatakan bahwa patung ini adalah “jembatan” untuk berkomunikasi dengan Tuhan; dan dengan tegas Ignacio menentang praktik pemujaan berhala. Sungguh sebuah batasan yang sangat tipis.

Hasil investigasi saya di lapangan menghasilkan jawaban bahwa mayoritas peserta mengakui dengan percaya pada Black Nazarene, tidak ubahnya dengan percaya pada Yesus Kristus. Maricar, 40 tahun mengatakan, dirinya tetap percaya dan beriman pada Yesus Kristus, hanya saja ia membutuhkan sebuah penguat akan kepercayaannya itu. Lalu ia menegaskan, percaya pada Black Nazarene bukan berarti ia menyembah berhala, ia mengikuti prosesi ini sebagai ungkapan syukur pada berkat yang telah ia alami dalam hidupnya.

Berdasarkan catatan sejarah, patung Black Nazarene dibawa dari Mexico ke Filipina pada tahun 1606. Awalnya sama seperti patung Yesus Kristus lainnya, patung ini berwarna putih sesuai dengan gambaran global Yesus Kristus. Kemudian kebakaran hebat terjadi di kapal yang membawa patung ini dan bukannya terbakar habis, api dari kebakaran malah mengubah warna patung ini menjadi kehitaman. Sejak saat itu, patung ini dikenal sebagai Black Nazarene. Pada tahun 1650, Paus Innocent X di Vatikan mendukung penyembahan pada Black Nazarene. Patung ini telah mendiami tempatnya sekarang sejak tahun 1787 dan berhasil selamat dari berbagai bencana seperti kebakaran, gempa bumi dan perang dunia ke dua.

Apakah lolosnya Black Nazarene dari berbagai bencana adalah sebuah kebetulan, atau ia memang memiliki mujizat seperti yang dipercaya orang. Entahlah, tapi melihat histeria pemujanya untuk menyentuh, mencium dan melihat dari dekat, Black Nazarene sudah menjadi sebuah idola. Akal sehat sudah tidak bermain disini, pemujanya rela berdesak-desakan dengan resiko kehilangan nyawa, demi berdekatan dengan sang idola. Begitulah manusia, selalu mencari sosok konkret dengan dalih untuk menajamkan keimanan mereka.

Published in JalanJalan Magazine.

Ed: September 2013

LET’S RIDE THE WIND

 

Sejak akhir abad ke 20, Taiwan, bersama dengan tiga negara Asia lainnya yaitu Singapura, Hong Kong dan Korea Selatan terkenal dengan sebutan “Four Asian Dragon”. Kesuksesan pemerintah Taiwan membangun perekomiannya, membawa serta kehidupan warganya memasuki tahap modernitas. Gedung Taipei 101 yang pernah menjadi gedung tertinggi sedunia, adalah bukti nyata keberhasilan negara kecil ini. Namun, bagi saya, setiap kali mendengar kata Taiwan, yang terbesit dalam benak saya adalah barisan perbukitan hijau nan asri yang menjulang sangat tinggi, di puncaknya gumpalan awan bergerak mengikuti arah angin, dan sungai-sungai kecil mengalirkan air yang jernih. Taiwan dengan pesona alamnya memang tepat bila disebut sebagai pulau Formosa yang berarti “pulau yang indah”.  Menurut saya, warga Taiwan sangat beruntung, kencangnya arus modernitas, tidak membuat mereka kehilangan identitas diri. Terbukti dari banyaknya bangunan yang memadukan modernitas dan nilai tradisional. Serta disana sini masih bisa ditemui area-area hijau sebagai tempat berekreasi.

Dalam artikel ini, saya mengajak anda untuk menjelajahi sisi lain Taiwan melalui kegiatan bersepeda dan berjalan kaki. Kedua aktifitas fisik ini memang terdengar cukup menguras tenaga, namun inilah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kepuasan menjelajahi Taiwan.

 

Riding with the wind in Taipei

Bersepeda merupakan salah satu kegemaran warga Taipei untuk mengisi waktu luang sekaligus berolahraga. Hal ini nyata terlihat dari banyaknya tempat parkir sepeda di setiap sudut kota Taipei, bahkan para pesepeda ini diperbolehkan untuk membawa masuk sepedanya ke dalam MRT. Kegemaran bersepeda warga Taipei ini, juga didukung oleh pemerintah kota setempat dalam penyediaan lahan khusus bersepeda yang terintegrasi dengan suasana alami seperti sungai, lahan mangrove dan taman kota.

Untuk memulai petualangan bersepeda ini, cukup hanya dengan mengandalkan peta bersepeda yang bisa didapatkan secara cuma-cuma di visitor information center yang ada di setiap stasiun MRT. Di peta, kita bisa memilih enam medan penjelajahan, tentu setiap lokasi memiliki keunikan dan keindahannya sendiri. Seperti di jalur Keelung Riverside Bikeway, para pesepeda bisa duduk di hamparan rumput yang luas sambil menikmati pemandangan distrik Neihu, dimana terletak salah satu landmark terbaru kota Taipei, yaitu Ferris Wheel of Miramar. Pilihan lain adalah bersepeda di tengah hamparan tanaman padi di Guandu Plains atau bersepeda sambil mengunjungi lokasi bersejarah seperti di Shiahai Chenghuang Temple, sebuah kuil yang selalu dipadati oleh peziarah saat perayaan ulangtahun Dewa Kota, Chenghuangye. Di sepanjang jalur bersepeda ini, juga banyak terdapat pusat-pusat jajanan dan belanja, seperti di pasar Bali yang terletak di jalur Bali bikeways, berjejer kedai-kedai makanan yang menyediakan makanan khas Taiwan, sebut saja tahu busuk, bakpao, teh susu dan lainnya. Tingkat keamanan bersepeda juga cukup baik, pesepeda tak perlu khawatir kala harus meninggalkan sepedanya tanpa terkunci. Begitupula dengan jalur bersepeda yang sangat mulus, bersih dan nyaman serta lebar jalurnya cukup untuk dilintasi oleh pengedara dari dua arah.

Kala itu saya memilih untuk menjelajahi jalur Bali Left Bank bikeways, karena menurut seorang teman asal Taiwan, daerah ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan lokasi yang lain yaitu lokasinya masih asri, tidak terlalu ramai, sekaligus bisa memuaskan hobi fotografi saya. Maka, di suatu sore yang cukup cerah, setelah lima hari Taipei diguyur hujan dan topan, saya pun beranjak dari penginapan menuju stasiun MRT terdekat. Tujuan saya hari itu adalah MRT Danshui, dilanjutkan dengan sedikit berjalan kaki menyusuri pasar malam Danshui, lalu menumpang kapal penyebrangan untuk menyebrangi Danshui River. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 saat saya tiba di Bali Left Bank bikeways, namun mentari masih bersinar cukup terang, karena saat itu adalah musim panas sehingga matahari bersinar lebih panjang daripada musim lainnya. Ini berarti, saya masih memiliki waktu sekitar dua jam, hingga mentari terbenam seluruhnya.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, saya segera mencari tempat penyewaan sepeda. Saya cukup terkesima dengan beraneka ragamnya jenis sepeda yang ditawarkan, mulai dari sepeda untuk anak-anak, sepeda gunung hingga sepeda tandem. Biaya penyewaan bervariasi tergantung jenis sepeda dan waktu penyewaan. Untuk sepeda gunung, saya mengeluarkan uang 100 NT (Rp. 35.000 untuk pemakaian 6 jam). Setelah memilih sepeda yang saya inginkan, saya segera menyusuri jalur bersepeda. Pengendara sepeda hari itu, tidak terlalu banyak dan mayoritas adalah warga setempat yang sedang menikmati sore hari sambil bersepeda. Memasuki 100 meter pertama, saya sudah bisa menikmati penjelajahan saya. Lajur bersepeda yang saya lalui sangat mulus, tertata apik dan walau lajur ini terletak di pinggir sungai, namun tidak sedikitpun tercium bau tak sedap. Suasananya pun sangat tenang, bisingnya laju kendaraan serta riuhnya keramaian kota besar sekejap hilang berganti dengan kicauan burung dan semilir angin. Ditambah dengan udara segar yang tak hentinya menerpa wajah seiring dengan kayuhan sepeda. Sungguh sebuah kenikmatan bersepeda.

Mata saya pun dimanja dengan indahnya pemandangan Danshui River dengan latar belakangnya pasar malam Danshui serta beberapa bangunan tinggi, sedangkan di sisi kanan saya adalah jejeran pepohonan yang rapi dipadu dengan beberapa titik taman umum yang tersebar sepanjang jalur bersepeda sebagai lokasi warga setempat untuk berolahraga atau berpiknik. Selama penjelajahan, saya sempat beberapa kali berhenti di tempat-tempat yang menurut saya indah hanya untuk duduk menikmati keindahan itu dan mengambil foto. Di tengah perjalanan, saya juga menemukan sebuah kedai kopi dengan nama yang sangat menarik perhatian yaitu Mother’s Tongue. Segera, saya memutuskan untuk berhenti dan menikmati secangkir teh susu dingin. Kedai kopi yang cukup modern ini didesain dengan sangat apik dan nyaman, ditambah dengan pelayanan yang sangat ramah, sungguh membuat saya tak ingin beranjak pergi. Untunglah, keinginan kuat untuk mengambil foto pemandangan Danshui River kala matahari terbenam mendorong saya untuk segera melanjutkan perjalanan. Sekitar satu kilometer dari kedai kopi, medan perjalanan berganti dari aspal menjadi jembatan kayu, yang di kiri dan kanannya ditanami pohon bakau. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah lapangan yang cukup luas dan agak menjorok ke sungai, sehingga memungkinkan saya untuk melihat keseluruhan pemandangan di seberang sungai serta jembatan Guandu yang cukup terkenal dan sangat indah di kala malam hari. Di tempat ini saya tidaklah sendirian, ada beberapa kelompok warga yang sedang menikmati suasana sore hari, sambil menikmati makanan kecil maupun berbincang-bincang. Sungguh, saya sangat iri dengan mereka, walau Taipei adalah sebuah kota modern yang sangat sibuk, namun warganya masih memiliki pilihan lokasi bernuansa alam yang cukup asri untuk menghabiskan waktu senggang mereka. Warga setempat pun sangat ramah dan gemar berbincang, saat saya sedang asik-asiknya mengambil foto, ada saja beberapa warga yang dengan ramah menegor saya dan kami pun sempat berbincang sebentar. Setelah puas mengambil foto, saya mengayuh kembali sepeda saya menuju tempat penyewaan dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Perjalanan saya hari itu, ditutup dengan menikmati jajanan lokal di pasar malam Bali. Pilihan menu saya adalah tahu busuk yaitu tahu goreng yang difermentasikan dengan berbagai macam jenis rempah, sehingga bila dimasak mengeluarkan bau busuk, nah disinilah keahlian juru masaknya diuji, karena tahu yang lezat tidak akan terasa bau saat dimakan. Tahu busuk ini disajikan dengan acar sayuran dan saus serta sambal.

Bagi saya, pengalaman ini sangat luar biasa, karena saya bisa merasakan dan melihat Taipei dari sisi yang berbeda yang sangat bersahaja dan jauh dari keramaian serta kapitalisme, namun yang paling utama adalah kesempatan untuk bisa membaur dengan warga setempat.

 

Taman Nasional Taroko – Hualian

Mengunjungi Taiwan, tidak akan lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Hualian, salah satu kota di sebelah timur Taiwan yang berjarak dua jam perjalanan kereta api dari kota Taipei. Lokasi wisata yang cukup terkenal di kota ini adalah Taman Nasional Taroko, yang merupakan taman nasional kedua terbesar di Taiwan setelah Taman Nasional Yushan di sebelah selatan pulau Taiwan.

Taman Nasional Taroko sendiri, membentang seluas 92.000 hektar dan melintasi tiga wilayah atau kota yaitu Hualian, Nantou dan Taichung. Taman ini paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing dan lokal karena pesona bebatuan marmernya yang indah dan telah berusia jutaan tahun. Ketenaran lokasi ini menjadikannya sebagai salah satu ujung tombak pariwisata Taiwan, dan seringkali menjadi lokasi pengambilan gambar untuk film-film Taiwan.

Kunjungan saya ke Taman Nasional Taroko cukup singkat namun sangat berkesan. Seorang kawan asal Taiwan yang telah sangat mengenal Taroko, berbaik hati untuk memandu saya dalam menjelajahi Taroko. Ia menyarankan agar kami melakukan penjelajahan dengan berjalan kaki, karena ada beberapa keuntungan yang bisa didapat, salah satunya adalah untuk memenuhi kegemaran fotografi kami. Ada begitu banyak titik yang indah dan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan. Selain itu, melakukan fotografi di kawasan ini juga cukup menantang, karena tebing yang menjulang tinggi, menyebabkan pencahayaan matahari tidak selalu maksimal, maka untuk menghasilkan hasil yang baik, terkadang kami harus menunggu selama beberapa saat. Setidaknya dengan berjalan kaki, kami lebih bebas dalam menjelajah.

Kami tiba di Taroko, saat hari sudah menunjukkan pukul 14.00, karena perjalanan dari Taipei menuju Hualian dengan menggunakan kereta api menghabiskan waktu sekitar dua jam, kemudian kami menumpang bus dari stasiun kereta api Hualian menuju Taroko, dan ini memakan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam. Hari pertama kami di Taroko, kami habiskan dengan menyusuri Cimu Bridge hingga Tianshiang, tempat kami bermalam.

Cimu Bridge adalah sebuah jembatan yang sangat apik dan terletak antara dua tebing. Tepat, di bawah jembatan ini, terdapat sebuah batu yang karena erosi, memiliki bentuk menyerupai seekor kodok. Nama jembatan ini pun cukup unik, karena dalam bahasa Indonesia, Cimu bisa berarti “persembahan untuk ibu”. Hal ini terkait dengan keberadaan dua buah paviliun yang masing-masing terletak di kedua sisi jembatan. Paviliun pertama yang berada di atas batu yang menyerupai kodok, dibangun oleh almarhum presiden Chiang Jing Guo untuk memperingati ibundanya. Sedangkan paviliun di sisi sebelah timur, dibangun oleh almarhum presiden Chiang Kai Sek, juga untuk memperingati ibunda beliau. Di paviliun pertama inilah, kami beristirahat sambil menikmati bekal makan siang. Di bawah paviliun mengalir pula sungai Liwu, aliran sungai ini membentuk formasi-formasi bebatuan yang unik serta saya bisa menyaksikan dari atas betapa halusnya marmer yang telah tergerus air selama jutaan tahun.

Kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Tianshiang. Walau jarak yang kami tempuh sambil berjalan kaki cukup lama, namun ada beberapa pengalaman yang menurut saya sangat menarik, misalnya berjalan kaki menelusuri sebuah terowongan yang cukup panjang selama 10 menit, tanpa adanya bantuan penerangan. Satu-satunya pencahayaan adalah dari pantulan tanda pengaman jalan. Namun, kami bisa merasakan bila ada kendaraan yang datang melalui suara angin dan pantulan suara di dalam terowongan. Selain itu, ada pula terowongan yang lain dimana di langit-langitnya dihuni oleh sekelompok kelelawar yang riuh berterbangan. Sambil berjalan kaki pula, saya bisa memperhatikan konstruksi dari setiap terowongan yang ada, ada yang terbuat dari beton namun ada pula yang masih terbuat dari kayu serta bebatuan dan di celah-celahnya merembes tetesan-tetesan air pegunungan yang dingin.

Mendekati Tiangshiang, saya bisa melihat sebuah pagoda serta patung dewi Kuanyin yang berdiri cantik di atas tebing. Kedua landmark ini cukup terkenal di kawasan Tianshiang dan memiliki akses yang cukup mudah pula, sehingga banyak pengunjung yang tak lupa untuk mengunjungi kedua tempat ini kala berkunjung ke Tianshiang. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah taman plum dimana saat musim dingin, bunga-bunganya bermekaran dengan indahnya.

Tianshiang sendiri menyerupai sebuah desa kecil yang memiliki berbagai fasilitas umum seperti restoran, halte bus, mini market, kantor pos dan lainnya. Tianshiang juga kerap dijadikan tempat beristirahat sejenak oleh para pengunjung sambil menikmati penganan kecil dengan pemandangan tebing-tebing Taroko serta sungai Liwu. Suasana malam yang sangat sepi di Tianshiang juga tak kalah menarik, saat inilah saya bisa merasakan suasana magis Taroko di antara tebing-tebing yang menjulang tinggi, pencahayaan yang hanya berasal dari bulan dan bintang serta merdunya aliran sungai Liwu. Tempat saya bermalam, yaitu di Tianshiang Youth Activity Center juga sangat nyaman, walau saat itu sedang musim panas dan di setiap kamar terdapat penyejuk ruangan, namun saya memilih untuk membuka jendela kamar saya dan beristirahat sambil ditemani oleh suara aliran sungai dan udara pegunungan yang sejuk. Setelah sekian minggu saya di Taiwan, mungkin di Tianshiang inilah saya bisa beristirahat dengan total dan nyaman.

Hari kedua kami di Taroko, kami tak memiliki banyak waktu karena harus segera kembali ke Taipei. Sehingga kami memutuskan untuk mendatangi tempat-tempat yang memang sangat terkenal yaitu Swallow Grotto dan The Tunnel of Nine Turns, tentu sambil berjalan kaki. Saat menginjakkan kaki di Tunnel of Nine Turns, tak terkira betapa senangnya saya, karena setelah sekian lama hanya melihat keindahan lokasi ini dari film-film, akhirnya saya bisa melihat secara langsung keindahan tempat ini. Dan benar, tempat ini memang sangat mempesona, apalagi saat itu tidak terlalu banyak pengunjung, sehingga saya benar- benar bisa merasakan keindahan tempat ini dengan maksimal. Bebatuan marmernya yang sangat halus menjulang tinggi, serta warnanya cukup berbeda dengan batu marmer kebanyakan, mungkin karena pantulan matahari, sehingga terlihat berwarna agak hijau. Kami cukup berhati-hati di lokasi ini, karena kami melihat ada banyak bebatuan yang jatuh dari atas. Menurut kawan saya, gempa bumi yang terjadi sekitar 10 tahun lalu, membuat formasi bebatuan di tempat ini menjadi labil dan sering berjatuhan. Maka bila anda berkunjung ke tempat ini, pastikan bahwa anda senantiasa berdiri di bawah tebing yang menutupi kepala anda dari luncuran bebas batu dari atas, atau gunakan helm. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan kami ke Swallow Grotto. Di lokasi ini terdapat dua buah terowongan yaitu khusus untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Melalui terowongan khusus pejalan kaki inilah, saya bisa melihat aliran sungai Liwu dari dekat, karena disinilah lokasi terendah bila diukur dari ketinggian sungai, dan sebaliknya bila kita melihat ke atas, kita bisa melihat tebing yang menjulang sangat tinggi.

Swallow Groto merupakan tujuan terakhir saya di Taroko dan kami pun bersiap untuk kembali ke Taipei. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa buah plum serta peach yang banyak dijual oleh pedagang kecil di Tianshiang. Buah-buah tersebut sangat manis dan sangat berbeda dengan buah plum atau peach yang kerap saya beli di Jakarta, mungkin itulah buah plum terlezat yang pernah saya nikmati selama ini.

Sayang, kunjungan kami terbatas oleh waktu, padahal masih ada beberapa lokasi yang ingin saya jelajahi seperti area hutan lindungnya yang terdapat beranekaragam flora dan fauna serta sisa-sisa peninggalan budaya kaum aborigin seperti jalur-jalur penjelajahan kuno yang pada masa lampau digunakan untuk berburu. Lokasi lain yang tak kalah menarik adalah Guanyuan, dimana pada musim dingin, kita bisa merasakan salju sekaligus memandang lautan awannya nan indah. Di lain waktu, saya pasti kembali. Untuk saat ini au revoir Taiwan!

 

Romy Martinez

These past few weeks, i have learned new thing. Well, it’s not really NEW but i have reminded about it: To appreciate small things.

I got the inspiration from a man that i met in work. I made his story for a TV program.

His name is Romy Martinez.

He is a simple guy, he is working as a sales guy in side street kiosk in Manila. He is 57 years old, he has 5 children. He does not have good stuff at his house and he lives in a house that is smaller than my living room. But, i see his sincerity and humbleness. 

He is a volunteer in Tzu Chi Foundation. He’s never become Tzu Chi beneficiaries. But after he saw what Tzu Chi did to his best friend, he becomes volunteer. His best friend, Roberto, was helped by Tzu Chi for cataract operation. Since then, two of them are Tzu Chi volunteer.

I love with what Romy told me,

Love other people as how you love yourself. When we are troubledwe look for people who could help us. So I like that principle, that others will love me back. What I do first is to sow lovethat way, God sees what we do to others and He knows what to do to those who habitually help others.”

There is not many people like him. From him, i learned how i live my life. Do i live a humble life or i become a person who is selfish and self-centered?

Thank you for the inspiration, Romy. 

ImageI hope i can be a person that can give inspiration to other people, like what you did to me.