If….

Udara malam kota Jakarta yang dingin.

Tetes-tetes air hujan yang terus menguyur bumi.

Suasana kelam mewarnai detik-detik pergantian tahun di Jakarta.

Pesta-pesta yang sudah dengan rapi dipersiapkan sejak berbulan-bulan lalu, terancam batal.

Nun jauh di sana,jauh dari gemerlap kota Jakarta yang hingar bingar. Di Jawa Tengah dan Timur, ratusan ribu orang melewati tahun baru ini dengan kesedihan dan penuh derita. Tempat tinggal, harta benda rusak terendam air bah. Bahkan puluhan nyawa melayang ditelan kegelapan malam nan kekal.

Sisanya yang selamat, terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Meninggalkan semua yang tersisa.

Kedinginan, kelaparan, tempat tinggal yang jorok, sanitasi yang buruk,penyakit yang mulai bermunculan, mewarnai pergantian tahun ini.

Andai saja, musibah ini tidak terjadi…

Mungkin para penjual terompet sudah meraup untung yang besar….

Mungkin, saat ini di atas sebuah panggung, sesosok tubuh indah gemulai sedang meliuk-liukan tubuhnya sambil memperdengarkan suaranya yang merdu melalui irama dangdut.

Mungkin, sebagian besar penduduk desa sedang mengerumuni panggung dangdut sambil ikutan berjoget dan bernyanyi.

Mungkin segerombolan anak muda dengan sepeda motornya, sudah mengelilingi pusat kota serta bersenda gurau bersama.

Mungkin……ah..banyak sekali “mungkin” yang bisa dibayangkan.

Namun, apalah daya, setelah banjir menerjang pada 26 Desember 2007, semua harapan, semua rencana, hilang begitu saja. Mereka dihadapkan dengan kenyataan, bahwa mereka sedang terkena musibah. Dan dengan penuh kesabaran, mereka harus melalui semua ini dengan tegar.

Di sudut lain dunia, pada waktu yang bersamaan, masyarakat dunia dengan penuh sukacita merayakan pergantian tahun ini denga megah dan mewah. Keceriaan dan kebahagiaan terpancar jelas di wajah-wajah ini. Pesta-pesta nan meriah diselenggarakan. Kembang api yang spektakuler diperagakan, makanan dan minuman lezat disajikan, barang-barang nan indah dan rupawan dipamerkan, pakaian-pakaian buatan designer ternama yang harganya selangit, dikenakan oleh manusia beruntung ini.

Wahai, manusia, di tengah kesenangan dan kebahagiaanmu, ingatkah kamu, akan penderitaan yang dialami oleh masyarakat di belahan dunia lain ? manusia yang saat ini hidupnya sedang terkatung-katung tak nentu arah. Yang bergantung pada uluran tangan kita. Ironinya hanya beberapa dari kita yang mau membantu mereka dengan tulus.

Sungguh hidup ini penuh dengan ironi.

1 Januari 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s