Perempuan punya cerita…

Entah mengapa, sejak dulu, kisah perempuan selalu menarik untuk diangkat. Termasuk dalam film karya 4 perempuan Indonesia ini. Cerita yang berbeda, lokasi berbeda, namun memiliki benang merah yang sama. Hubungan intim…inilah sumber dari semua permasalahan yang dialami oleh para tokoh dalam cerita ini.

Cerita pertama tentang seorang gadis cacat mental yang hamil karena diperkosa oleh warga pendatang. Kehamilan di luar nikah ini yang mendorong bidan untuk melakukan aborsi, karena walau jabang bayi ini lahir, toh tidak ada yang bisa merawatnya. Adegan klimaks adalah ketika sang pemerkosa melakukan aksi damai dan memberikan sejumlah uang dan ini diterima oleh Nenek si Gadis. Sebuah cerminan, karena kemiskinan, harga diri pun mau diinjak-injak.

Cerita kedua adalah anak-anak SMA di Jogjakarta, yang sudah sangat akrab dengan hubungan intim. Bahkan salah satu diantaranya hamil sehabis digilir oleh 4 temannya. Yang ironis, mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan bisa tertular penyakit kelamin, karena mereka melakukannya dengan gadis baik-baik, bahkan tidak pula menggunakan”karet”, karena dianggap mengurangi kenikmatan. Yang menambah lengkap cerita adalah kehadiran seorang wartawan yang sedang investigasi kehidupan remaja Jogjakarta. Demi mendapatkan keutuhan laporannya, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis SMA. Seperti yang sudah diprediksi, adegan yang tidak seharusnya dilakukan itu pun terjadi. Sang gadis, sudah menaruh harapan yang tinggi dari sang pria, dan ia rela memberikan keperawanannya (tapi gue ragu sih, tuh ce masih virgin apa ga, abis ga jelas diceritainnya, harusnya sih dah kaga :p ). Tapi seperti yang bisa ditebak, si laki-laki hanya mencari kesempatan aja, dia sesungguhnya sudah punya pasangan di Jakarta.

Cerita ketiga, dari Cibinong. Seorang ibu yang bekerja sebagai pencuci WC di kelab dangdut. Ia bekerja mati-matian demi keluarga. Sedangkan anak gadisnya yang baru duduk di sekolah dasar, seringkali ditinggalkan di rumah bersama ayah tirinya, yang ternyata sering meminta si anak untuk “blow job”. Sampai suatu ketika, si ibu mengetahui keadaan ini, lalu mereka pindah rumah dan berkenalan dengan seorang laki dari Jakarta yang ternyata tersangkut dengan “human trafficking”. Sang gadis dibujuk-bujuk oleh si lelaki untuk kerja di Jakarta. Gayung pun bersambut, keputusan sang gadis ini tentu sangat menyakitkan sang ibu yang ingin agar anaknya dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ternyata setiba di Jakarta, sang gadis dinikahkan dengan om-om bandot asal Taiwan.

Cerita terakhir adalah seorang ibu rumah tangga yang tertular AIDS dari sang suami almarhum yang hobi nge-drugs. Sang mertua yang tahu dia mengidap AIDS, ingin merebut cucu perempuannya dari si ibu. Sang ibu pun mengalami dilema, penyakitnya yang semakin memburuk dan keinginan untuk memberikan kehidupan yang baik bagi putrinya. Akhirnya ia pun merelakan anak gadisnya untuk dirawat oleh sang mertua.

Sehabis menonton ini, temanku langsung nyeletuk, “wah malu deh gue sebagai laki-laki.”

Cerita yang diangkat oleh ke-empat movie maker (Nia Dinata, Upi, 2 lagi lupa) ini, menurutku sangat realistis terjadi di masyarakat kita.

Mungkinkah karena budaya patriaki yang kental, tingkat pendidikan yang rendah, serta kemiskinan, yang membuat banyak hal ini bisa terjadi.

Beberapa waktu lalu, aku mendengar penuturan dari salah satu kenalan laki-laki, yang pernah diperkosa oleh kaumnya. Sang pemerkosa sesungguhnya sudah memiliki anak istri, begitupula dengan kenalanku. Melihat latar belakang kehidupannya yang miskin dan berpendidikan rendah, sepertinya hubungan intim (homoseksual ato heteroseksual) bagi kaum tersebut sudah menjadi hal yang biasa. bahkan sudah mendekati naluri binatang yang tanpa berpikir panjang melakukan hubungan intim, yang penting adalah nafsu terpuaskan.

Akibat dari nafsu binatang inilah, perempuan selalu menjadi korban. Mereka harus menanggung kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit kelamin, bahkan yang paling parah adalah hilangnya harga diri.

Entah kenapa, kaum Adam ini selalu merasa dirinya yang berkuasa atas perempuan. Mereka bisa memperlakukan apa saja terhadap perempuan. Mengutip dari ucapan teman perempuanku, “padahal kalo ga ada perempuan, ga ada tuh laki-laki.” Harusnya bila para lelaki ini sadar, siapa yang mengurus dan melahirkan mereka ke dunia, mereka mestinya lebih menghargai perempuan.

Tapi berdasarkan pengalamanku dan juga sejarah, sebesar apapun tekanan laki-laki pada perempuan, kaum perempuan akan selalu menang. Karena perempuan selalu memiliki sejuta cara untuk bertahan. Sudah menjadi nalurinya untuk dapat bertahan.

Menurut sejarah, dimana ada lelaki yang sukses, selalu ada perempuan hebat di belakangnya dan sebaliknya kekuasaan laki-laki bisa jatuh karena perempuan. Bahkan dalam film dokumenter CIA dituturkan, untuk mengorek informasi dari musuh, CIA selalu menggunakan perempuan untuk jadi senjata utama.

Sehabis menonton film ini, aku jadi ga sabar menunggu, akankah suatu saat ada movie maker pria yang membuat kisah kaum Adam?

Jakarta, 4 Februari 2008

3 thoughts on “Perempuan punya cerita…

  1. Memang film “perempuan punya cerita” menampilkan apa yang terjadi di dunia saat ini, bukan hanya di Indonesia. Sudah umum bahwa di negara-negara barat juga terjadi hal yang sama. Banyak kaum pria melakukan kekerasan seksual dan harrasment kepada para wanita, termasuk dengan rekan kerja sendiri.

    Kalau dikatakan apakah kaum pria harus malu, memang sudah seharusnya malu. Mungkin hanya orang gila yang memang mempunyai nafsu seks seperti binatang yang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai rasa malu. Tetapi masalahnya banyak orang gila dalam wujud pria waras, paradox mungkin tapi hal tersebut adalah kenyataan. Acapkali kaum pria beranggapan yah memang sudah sepantasnya kalau saya menikmati wanita lain, sudah sangat sering saya mendengar perkataan,”wijaya, itu sudah umum, ibaratnya makan masakan pakai teri melulu pengen donk coba ikan lain”. Atau “wijaya, c’mon jangan berpikiran sok suci, u have to try”. Dari hal yang sebenarnya menjijikan mereka anggap biasa, dan akhirnya mereka menjadi kebal. Jangan berpikiran yang berbicara ini adalah orang biasa, atau pria kebanyakan, mereka yang berbicara adalah para pemimpin perusahaan, atau paling tidak mereka adalah eksekutif muda yang haus akan pujian, kekayaan dan wanita.

    Tentu saja, tidak semua pria juga semua seperti itu. Seperti salah satu orang yang saya hormati pernah berkata: Wijaya kamu tahu, adalah bullshit jika seorang pria bilang bahwa dia cinta Tuhan atau takut akan Tuhan, tetapi dalam hidupnya dia bisa berkhianat terhadap orang yang dikasihinya. Intinya adalah bagaimana kamu bisa takut akan wujud Tuhan yang tidak berwujud, sedangkan pada seorang wanita yang jelas wujudnya dan selalu ada disisi mu setiap malam kamu tega mengkhianatinya. Mungkin yang terjadi adalah Tuhan mu malahan menjadi hamba mu.

    Belajar dari kehidupan orang-orang lain, saya juga melihat bahwa memang kehidupan para pria hidung belang itu tidak pernah beres. Banyak para eksekutif muda dan pengusaha kehidupannya hancur berantakan, simple karena wanita lain. Sudah hukum alam, apa yang kamu tabur, itu juga yang akan kamu tuai. Pengkhianatan akan berbuah pada kesengsaraan. Sebaliknya para pria yang setia dan menghargai pasangannya, biasanya hal yang baik banyak terjadi pada mereka. Entah dalam bentuk karir, usaha ataupun kesehatan yang baik.

    Penguasaan diri adalah inti bagaimana seorang pria harus bersikap dalam hidup. Penguasaan diri juga yang membedakan apakah pria itu bisa sukses dalam hidup, sukses disini mempunyai arti lebih daripada uang yang banyak, nama yang harum. Sukses disini adalah kemampuan kita memenangkan pertandingan dalam kehidupan.

  2. pertama gua mau komen soal film ini dari si pembuatnya.. yaitu perempuan, kadang tidak bisa melihat hal dari sudut pandang laki laki, mereka hanya bisa melihat laki laki dari sudut pandang seks.
    memang, itu realitas yang terjadi dimana seks sering kali diperdagangkan dan dijual dan bahkan ada ungkapan bahwa industri yang paling tua dijalani adalah seks.

    gua bisa menghargai sudut pandang dari sebuah film adalah dari kenetralannya.. makanya gua suka film seperti crash, dll yang multi plot (multi orgasm also ya, hehe)

    that’s always about seks, bahkan si psikolog sigmund freud mengatakan
    ” Man has, as it were, become a kind of prosthetic God. When he puts on all his auxiliary organs, he is truly magnificent; but those organs have not grown on him and they still give him much trouble at times. ”

    laki laki memang tidak bisa dipisahkan dari seks, dan memang itu adalah kebutuhan semua orang, bukan hanya laki laki dan perempuan. mungkin yang perlu dicari adalah… kenapa sang laki laki begitu? dan kenapa sang perempuan kok bisa begitu? seks adalah kebutuhan bersama entah itu dari laki laki dan perempuan, nah apabila kebutuhan itu di lakukan secara berlebih, salah satu pihak pasti akan merasa tertekan, itu pasti.

    isu seks buat saya selalu menjadi pertanyaan, what is it about seks? sebuah kebutuhan atau jadi kewajiban ? kalau itu jadi kebutuhan , itu akan jadi hal biasa saja, seperti kebutuhan orang untuk makan dll, dan kalau itu jadi kewajiban, seks itu akan menjadi sesuatu yang berlebih, dan tentu saja, itu akan mempengaruhi si empu nya yang melakukan.. well bull shit untuk soal penguasaan diri. pilihan itu ada didalam diri kita sendiri

    budaya barat emang beda dengan timur, barat begitu terbuka, si istri bisa saja nuntut. eh ane butuh seks neh.. si suami bisa jawab.. yuuuu
    dan budaya timur begitu halus dan ja im. si istri bisa ngomong “ngeong” si suami kadang ngga ngerti…

    budaya barat yang diselubungkan oleh topeng budaya timur yang ditunjukkan oleh film ini begitu kental, nia dan kawan kawan tidak sungkan sungkan untuk memaparkan kejadian yang sebenarnya didalam film ini.. memang sebagai orang yang melihat blog ini seperti saya, laki laki akan bertanya2 kok filmnya begitu menyudutkan laki laki ya? padahal nggak begitu banget deh realitasnya. namanya juga film, bisa dibuat dengan taste si pembuatnya, just curious aja. bukannya membela laki laki..hehe

    hidup itu memang misteri, dan seperti kata psikolog terkenal ini…

    The great question that has never been answered, and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is “What does a woman want?”
    Sigmund Freud

    halah….

  3. klo film ttg co’ dan ce’ yg dibuat oleh sutradara co’ maka hasilnya akan ketahuan jadi bahan kritikan para feminis dan para maskulin yg 1/2 ce’ karna apa ? karna smua feminis selalu menganggap dirinya “korban” yang paling nikmat dr suatu hubungan sex slalu co’ dan banyak hal lainnya yg selalu mengarah kepada eksploitasi kaum ce’. Padahal sejak perempuan pertama hawa, kejatuhan itu diawali oleh seorang perempuan, jadi sebetulnya laki-laki adalah korban, cuma bedanya seblum menjadi korban laki2x merasa nikmat, tetapi pihak perempuan berkorban untuk memperoleh kenikmatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s