Cloverfield

Hmmm…..melalui media massa saat ini, konsep citizen journalime, sudah sering dipakai. Mungkin media yang paling pertama menggunakan konsep ini adalah radio. Di Jakarta, Citizen journalisme, paling sering dipake untuk melaporkan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan. Lalu konsep ini berkembang dan ditiru oleh televisi. Misal di Metro TV, sudah ada segmen yang mengangkat video dari masyarakat, sebagai sumber informasi pemirsa.

Konsep ini pula yang diambil dalam film Cloverfield. Konsep ini memang ga awam di Indonesia, bahkan ketika gue nonton film ini, hampir semua orang-orang di sekitar gue malah ga suka. Buat gue yang kerja di Media, gue malah beranggapan konsep film ini keren abis. Karena selama ini masih jarang film maker yang membuat film dengan konsep seperti ini, biasanya paling hanya untuk kebutuhan film documenter, tapi tidak untuk kebutuhan layar lebar.

Film ini berkisah tentang Monster yang menyerang Manhattan. Gedung-gedung ambruk, salah satu jembatan penghubung pulau Manhattan dengan daratan, juga diserang hingga tak ada jalan keluar lain. Sang tokoh utama, setelah serangan pertama dari si Monster, menerima telepon dari sang kekasih, yang sedang berada di apartemennya dan tidak bisa bergerak karena ia terluka. Seperti kisah umumnya, Sang tokoh utama ini pun mencari sang kekasih. Di perjalanan menuju rumah sang kekasih, si tokoh utama harus menghadapi berbagai halangan.

Semua gerak-gerik si tokoh utama dalam upaya menyelamatkan sang kekasih, terekam dalam handycam yang dipegang oleh sahabatnya. Dan melalui rekaman sang kameraman inilah, film ini bertutur.

Ketakutan, kesakitan, rasa haru dan semua emosi yang terlibat terpampang jelas dari hasil si kameraman. Hal ini bisa seperti itu, karena sang kameramen merasakan langsung apa yang terjadi, dan ini malah memperkuat cerita. Inilah salah satu perbedaan dengan film yang lain. Pada film kebanyakan, kamera berada pada posisi netral yang mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada keseluruhan film.

Tapi pada Cloverfield, kisah yang ada hanyalah kisah sang tokoh utama dalam upaya mencari sang kekasih. Tidak diceritakan dengan detil, hal-hal lain di luar aktivitas si tokoh utama. Ini bisa dimaklumi karena sang film maker, ingin konsisten dengan konsep yang dibuat. Bila film ini menceritakan sedikit saja mengenai hal-hal di luar dari kisah tokoh utama, bubarlah film ini..jadinya malah ga natural dan terlihat sekali dibuat-buat.

Aku pun mengakui adanya berbagai kejanggalan dalam film ini. Dimulai dari kaset yang tidak habis-habis walau sudah dipakai lebih dari 12 jam, lalu baterai handycam yang bisa bertahan lebih dari 12 jam. Padahal umumnya hanya bisa bertahan sekitar 8 jam.

Ciri khas utama dalam penggunaan handycam pun ada disini. Gambarnya goyang, karena mengikuti pergerakan kameraman, maka banyak yang komplain, gara-gara nonton film ini, mata jadi sakit dan pusing.

Buatku, gambar yang goyang dan tidak beraturan, malah membuat film ini terlihat jadi natural.

Intinya, buatku, film ini tidak mengecewakan. Aku suka dengan konsepnya….that’s all….

Kalo dari segi cerita…standar lah ya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s