Old times memory…

Berjalan-jalan di area seputar Petak Sembilan, Glodok, Toko Tiga selalu mengingatkanku pada masa kecil. Maklum, dulu waktu SD, aku sekolah di kawasan pecinan ini, dan kalau abis pulang sekolah aku sering jalan-jalan ke Petak Sembilan untuk berburu aksesoris rambut. Kawasan ini juga jadi tempat favorit untuk hang out dengan teman-teman. Terkadang juga harus nemenin nyokap belanja makanan dan alat sembahyang. Tapi yang paling buat aku seneng jalan-jalan disini adalah banyak makanan enak, apalagi suasananya beda ma kawasan Jakarta yang lain. Suasana orientalnya berasa bener, walaupun kondisinya amburadul.

Sepertinya udah menjadi rutinitas tak tertulis, setiap tahun menjelang Imlek, mama pasti mengunjungi Petak Sembilan. Entah itu untuk beli makanan, ato alat-alat sembahyang. Untuk Imlek tahun ini, kebetulan aku yang nemenin mama. Udah lama juga ga jalan-jalan disini.

Keriuhan, orang yang teriak untuk minta jalan, ato menawarkan dagangan, masih ga berubah. Hanya kawasan ini sekarang lebih rapi aja dibandingkan 5 tahun lalu. Dulu kawasan ini gelap, rame, jalan sempit, becek dll. Setidaknya sekarang walau masih becek, tapi udah lebih baik deh. Jalanan lebih luas, ga gelap, bahkan kalo menjelang perayaan Tionghoa, sepanjang jalanan dihiasi lampion.

Kami pun bergegas mengunjungi toko langganan yang jual alat-alat sembahyang. Si penjual itu merangkap teman mama, semasa dulu waktu kita-kita masih kecil, mama sering anterin kita ke sekolah, jadilah mereka temenan dan bahkan mama jadi pelanggan setia si tante.

Di toko si tante, yang penuh dengan alat-alat sembahyang, bahkan bisa dibilang, mo nyari barang apa, si tante juga ada. Mo handphone, sepatu, koper, baju, TV, gelang, jam tangan dll semua ada……murah lagi, harganya cuma puluhan ribu. Yah tapi itu…..lo musti mati dulu baru bisa dapetin itu hihihihi….alias semuanya berwujud kertas buat jadi persembahan arwah.

Melihat barang yang beraneka ragam itu, pendapatku cuma satu, ternyata budaya konsumerisme dah nyampe ke alam baka sana…hahahaha…..

Kebiasaan penggunaan barang-barang itu ternyata dilihat dengan sangat jeli oleh si pedagang, maka untuk persembahan arwah, mereka pun membuat barang-barnag dengan jenis serupa.

Hmm….emangnya kita tau, di alam sono barang-barang kayak gitu dipake?

Tapi yang paling penting, emangnya barang-barang ini sampe ke arwah yang dituju?

Gitu deh kalo tradisi sudah bercampur dengan berbagai aliran kepercayaan. Sayangnya, orang yang sadar akan hal ini belum terlalu banyak. Tapi yang bikin pusing, kalo semua orang sadar akan hal ini berarti akan ada pedagang dan pekerja yang jadi penggangur, karena barang-barnag ini udah ga ada yang mo beli lagi.

Di sisi lain, dunia lagi krisis lingkungan boo…berapa banyak lagi pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia?

Belum lagi, waktu baker-bakaran itu, asepnya juga membubung, menyumbang karbondioksida.

Menurut gue sih, tradisi memang suatu hal yang harus dipertahankan. Dan jasa leluhur juga harus dikenang untuk mengingatkan kita akan keluarga besar. Tapi udah bukan saatnya demi tradisi, lingkungan untuk anak dan cucu jadi rusak.

Jadi gimana?????????

Gue sih tetep demen jalan-jalan di Petak Sembilan, apalagi ada ketoprak yang enak bener tuh….hehehe…

One thought on “Old times memory…

  1. Yah, paling dikirim HP ke alam sono. Jangan lupa vouchernya sekalian. Biar kalo ada apa-apa tinggal kirim SMS

    “A ma… aku udah ndak punya uang. Tolong kirimin uang dong”

    ** Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s