Become light in the dark

Ada banyak orang yang berpikir untuk pindah ke tempat lain, yang dianggap lebih layak dan lebih baik untuk ditinggali. But, today, i wanna share you something.

Di Jakarta, tempat kumuh tersebar dimana-mana, kemiskinan begitu menjerat, membuat mereka ga bisa lepas dari jeratan itu. kehidupan anak-anak pun jadi taruhannya. Masa depan mereka menjadi tak jelas, sebegitu tak jelasnya menyerupai kehidupan orang tua mereka.

I saw the same thing, here, in Manila. Makati City, sebagai bagian dari Metro Manila, bisa saja diciptakan sebagai sentra bisnis yang penuh dengan kemapanan. Kehidupan urban yang nyaman dan kompetitif, terasa banget di Makati City. Namun bila kita menginjakkan kaki di luar Makati City, kenyataan hidup kembali menerpa. Kondisi kehidupan yang sama seperti di Jakarta, juga terjadi disini. Anak-anak ngamen, sambil jualan barang2, ada disini. Pengemis, rumah-rumah gubuk, semua ada. Bedanya, rumah-rumah gubuk ini didirikan terlokalisir, berbeda dengan Jakarta yang dimana-mana ada rumah-rumah kumuh.

Selama ini, aku sering mendengar orang-orang yang ingin pindah ke luar negeri karena kehidupan di luar negri yang lebih baik. Tapi, melihat dua negara yang terbentang ribuan kilometer, namun memiliki kondisi yang sama, seharusnya membuat kita berpikir bahwa dimanapun kita berada selalu terjadi masalah sosial yang sama, yang berbeda hanyalah cara pemerintah menangani hal tersebut dan perlakuan dari orang-orang sekitarnya.

Maka itu, aku setuju dengan ajaran Gereja dan Master Cheng Yen, bahwa kita harus bisa menjadi terang dimanapun kita berada. Bermimpi untuk memiliki lingkungan yang nyaman dan indah serta kehidupan masyarakat yang harmonis? yah semua itu harus diciptakan. dan itu dimulai dari diri kita sendiri.

Impian itu bukan datang dari langit dan kita tinggal menikmati saja, tapi kita harus berkeras untuk menciptakannya. Bila, segenap penduduk Jakarta mau peduli dan saling membantu warga yang susah, pasti lama-kelamaan Jakarta juga bisa menjadi kota impian.

Sayangnya pikiran penduduk Indonesia belum berpikir ke arah sana, semuanya masih egois. Tapi menunggu orang lain untuk bertindak duluan, rasanya ga bijak juga. Lebih bijak dan adil kalo diri kita juga mulai duluan.

Manila,

March, 20, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s