Vegetarian

Vegetarian…..

Kata-kata ini udah cukup lama tergiang-ngiang di telinga.

Vegetarian…

ini juga salah satu solusi yang didengungkan PBB untuk mengatasi pemanasan global.

Kenapa?

Karena seekor ternak (sapi), hanya dalam sehari harus mengkonsumsi ratusan liter air. sedangkan manusia hanya membutuhkan 8 liter air perhari. Gas metana, salah satu gas yang berperan dalam pembentukan lapisan rumah kaca di Atmosfer, banyak dihasilkan oleh kotoran ternak dibandingkan dari sampah. Belum lagi lahan yang dilahap untuk tempat peternakan. Membuat pohon-pohon harus ditebang.

Hmm…hal-hal seperti inilah (kepedulian akan lingkungan) yang mendorongku untuk menjadi vegetarian. Plus ditambah satu faktor lagi sih. Entah kenapa sekarang aku selalu ga tega kalo liat hewan-hewan dibunuh untuk makanan manusia. Dulu, kalo mo beli ayam idup di pasar. Aku akan dengan santainya liatin tuh ayam dipotong, tanpa ada perasaan bersalah. Sekarang….. dah ga sanggup deh, bisa-bisa ikutan nangis.

Akhirnya akhir bulan Maret, aku memutuskan untuk coba-coba jadi vegetarian. Awalnya mudah, karena setiap makan siang, aku makan di pantry kantor yang selalu menyediakan makanan vegetarian.

Lalu, godaan perlahan-lahan mulai menyusup. Ada ayam goreng kesukaanku, ada siomay, wah pokoknya tiba-tiba jadi pengen bener makan makanan kesukaan.

Mulai deh iman goyah…

Akhirnya….

Batal deh :p

Yah udahlah, walau jadi vegetarian penuh cukup susah. Mending mengurangi makan daging aja. Dan sebelum makan, berdoa dulu mengucap syukur pada si hewan yang telah memberikan tubuhnya untuk disantap. Juga doa ma Tuhan yang masih memberikan makanan untuk dimakan.

on lunch time

3 April 08

One thought on “Vegetarian

  1. Vege atau tidak adalah sebuah pilihan. Bagi saya sendiri, selama tidak melihat, tidak menyuruh, tidak mendengar, proses hewan-hewan itu mati, maka aku akan memakannya. Tapi jika saya mengalami salah satu syarat diatas, bisa dipastikan saya tidak akan mengkonsumsi. Entah benar entah tidak keyakinan ini. Pernah suatu kali ada hajatan besar di rumah kakak keduaku, dan disana memotong kambing besar. Tapi karena saya melihat proses pemotongannya, akhirnya saya memilih untuk hanya mengkonsumsi sayurannya saja. Banyak orang yang mempertanyakan bahkan mentertawakan, tapi bagi saya itu adalah persoalan pilihan. Seberapa kuat pilihan-pilihan hidup kita itu. Bukankah hidup adalah rangkaian dari pilihan-pilihan?

    wied_odo.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s