Di balik kerutan wajah..

Pagi itu sungguh tak biasa. Di sebelah ranjang, aku duduk. Bukan di ranjang, tapi di sebuah kursi empuk. Sambil duduk santai kuperhatikan mamaku sedang merias wajahnya yang bulat, tapi masih terlihat kencang di usianya yang sudah setengah abad. Kuingat-ingat, sudah berapa tahun aku ga pernah melihatnya merias wajah seperti ini. Padahal dulu waktu kecil, aku suka sekali memperhatikan dia. Bahkan bisa dibilang dari sinilah aku belajar untuk merias wajah.

Gerakan tangannya, serta warna make up yang dipakai masih sama dengan yang dulu. Tidak ada yang berubah. Yang berubah hanyalah kerutan di wajahnya.

Sambil make up, dia terus bicara banyak hal tentang aktivitasnya sebagai relawan Tzu Chi. Mama memang sering bercerita tentang pengalamannya menangani bantuan untuk penerima bantuan. Tapi, di pagi itu, dia bercerita ada seorang keluarga pasien yang kagum dengan kontribusi papa dan mama. Kutangkap sedikit nada kebanggaan dalam suaranya. Yah, belakangan ini mereka memang cukup sibuk di yayasan. Sudah beberapa hari ini mama harus berangkat jam 4 pagi, dan baru pulang sore harinya.

Kuperhatikan mama cukup menikmati aktivitsas ini, walau kadang omelan sering keluar dari mulutnya. Tapi hari itu kulihat dia bahagia.

Ketika sedang asik merias wajah, papa datang untuk menanyakan suatu hal. Kuperhatikan, kedua orang ini yang usia pernikahannya sudah 28 tahun. Selama itu pula aku ada di tengah keluarga ini. Sudah kulihat dan kurasakan jatuh bangunnya.

Ketika keadaan ekonomi keluarga kami jatuh karena krisis ekonomi tahun 1998, saat itu aku baru masuk kuliah. Aku tahu, berat bagi mereka membiayai uang kuliahku, apalagi masih ada 2 orang adik yang masih sekolah. Uang sekolah mereka pun cukup besar, karena mama berkeras kami harus disekolahkan di sekolah terbaik. Jadilah kami bertiga, jebolan dari SMA Kristen, BPK Penabur.

Sering pula, ketika sudah saatnya bayar uang sekolah atao kuliah, mama harus pinjam uang dengan kerabatnya, karena kami memang tidak punya uang saat itu. Keadaan ini pun, terus berlanjut hingga setahun kemarin.

Karena mujizat Tuhan saja, kami bertiga bisa terus kuliah. Adikku yang paling besar juga sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai staff Legal. Beban kami hanya adikku yang paling kecil, dia masih kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Secara ekonomi, keadaan kami tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Terkadang kami pun mengalami kesulitan keuangan. Aku, sebagai anak paling besar, jadi tumpuan keluarga. Aku harus pandai-pandai mengatur keuangan, walau seringkali pada akhir bulan duit ludes, tapi aku masih bisa menikmati makanan enak di luar sana.

Mama dan papaku, mereka juga terus berjuang untuk menambah penghasilan keluarga kami. Dulu, hubungan kedua orang ini tidak terlalu baik, sepertinya mereka jalan masing-masing. Mama selalu sibuk dengan keluarga dan urusannya. Papa juga sibuk dengan perusahaan dan urusannya. Tapi, sejak keadaan ekonomi keluarga ini jatuh, aku melihat, mereka pada akhirnya bisa jalan berbarengan. Saling menopang satu sama lain. Seperti saat ini, mereka sedang giat-giatnya menjalankan sebuah usaha. Papa dengan kemampuan manajemennya, menunjang mama yang agak selebor, tapi punya hubungan baik dengan banyak orang.

Kuingat-ingat, masa-masa selama aku di keluarga ini, banyak susah senang dialami. Tapi, kurasakan, keadaan keluarga ini sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan 15 tahun lalu, ketika kami masih bergelimang harta. Walau saat ini harus hidup dengan uang yang pas-pasan, tapi secara kualitas masing-masing orang dalam keluarga ini melesat jauh.

Jakarta, 20 Mei 2008

One thought on “Di balik kerutan wajah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s