Kebersamaan dalam Lumpur

Puluhan jejak kaki bertumpang tindih di atas hamparan tanah merah yang masih basah. Hamparan tanah itu lebarnya hanya sekitar 3 meter, dan merupakan sebuah jalan setapak. Di ujungnya adalah laut yang membentang luas. Sedangkan di sebelah kanan dan kirinya, dibuat kolam berbentuk persegi empat dengan batang-batang bambu yang tersusun rapi di dalamnya.

Hari Sabtu itu (7 Juni 2008) , cuaca cukup cerah, mentari pun bersinar dengan teriknya. Angin semilir yang berhembus, cukup membantu mengurangi panasnya hari itu.

Di dalam sebuah tenda, yang didirikan diantara bentangan samudra dan sebuah bangunan bergaya modern di PIK, Jakarta Utara, berderet rapi kursi-kursi yang jumlahnya mencapai 250 kursi, hampir semuanya terisi…

Tamu yang datang dari LSM, dan murid-murid dari berbagai sekolah.

Di berbagai sudut, terlihat standing banner Da Ai TV. Menandakan tuan rumah acara ini adalah Da Ai TV.

Gaya berpakaian sebagaian orang yang mengenakan topi, sunglasses dan sandal jepit, sudah menggambarkan secara tersirat apa tujuan dari acara ini.

Bukan…bila anda berpikiran ini adalah acara santai di pantai, bukan..bukan itu. Da Ai TV sepertinya tidak akan pernah mengagas acara santai seperti itu.

Kegiatan kali ini adalah menanam bakau di pesisir pantai di daerah Pantai Indah Kapuk.

Sebagian orang, mulai menggulung celana panjangnya…

Sebagian lagi sedang mencari-cari sepatu boot yang tepat…

Sebagian lagi langsung terjun ke lumpur…

Dan aku adalah satu dari sedikit orang, yang memilih pilihan terakhir itu…

Awalnya aku masih berusaha untuk mengenakan sandal jepit, tapi ternyata lumpur mengikat terlalu kuat, daripada sandal jepitku putus, lebih baik bertelanjang kaki saja. Betul saja, begitu kakiku menginjak tanah liat, jalanpun menjadi mudah, walau seluruh kakiku tertutup tanah liat, namun lebih tidak licin.

Menanam bakau, tidak sesulit yang dibayangkan, sangat mudah. Kita hanya memasukkan bibitnya sampai sepertiga tingginya, lalu ikat di batang bamboo yang sudah disediakan di tiap tempat penanaman. Mudah sekali dan yang pasti sangat menyenangkan.

Candaan dan tertawaan, selalu terlontar…

Terlebih saat ada teman yang salah melangkah, dan harus terbenam sampai dalam…

Aku dan Mas Nanang, adalah salah satu yang kurang beruntung itu dan harus terbenam sampai sebatas paha..

Ketika aku terbenam, mas Nanang serta merta menarikku, tapi ketika giliran mas Nanang yang terbenam, aku tak kuasa menahan tawa…hehehe…

Mas Nanang mengenakan sepatu boot, dan ini yang membuat ia lebih sulit untuk bangkit. Mau tidak mau dia harus menarik kakinya keluar dari sepatunya. Setelah kakinya berhasil dibebaskan, dibutuhkan tenaga yang lumayan untuk mengeluarkan sepatu bootnya hehehe….

Yah itulah serunya…tapi akan lebih seru lagi kalau ada lempar-lemparan lumpur. Sayangnya, kita tidak diperbolehkan….:(

Usai menanam bakau, menjadi bagian paling ribet, yaitu saatnya bersih-bersih kaki dan baju…

Lempung dan lumpur yang menempel sulit sekali untuk dibersihkan. Apalagi kalau, celana yang dikenakan kotor juga, aku harus mengganti celana dan baju dulu, baru bisa bersih dengan tuntas. Itupun dengan menyisakan tanah liat di kamar mandi. Kasihan yang harus membersihkan, pasti cukup repot.

Celana yang kotor, langsung kumasukkan ke bagasi mobil, karena kotornya sudah tak dapat ditolerir lagi.

Sepertinya bukan hanya aku yang kotor banget, teman-teman yang lain pun begitu, tapi ada juga yang tidak kotor, entah ngapain mereka di dalam lumpur sana. Namun yang pasti, di kegiatan seperti ini kalau tidak kotor ga seru…..:P

Acara hari ini, juga jadi ajang acara kumpul-kumpul keluarga :p

Ada beberapa orang yang mengajak serta keluarga, momen yang langka terjadi nih…

Aku juga ngajak Bajaj dong, secara doi baru aja nyampe sabtu subuh.  Doi nyampe jem 1 pagi, bobo jem 2 pagi. Bukannya aku yang excited, ini malah terbalik, dia yang excited banget dan jem 6.30 dah bangunin aku. Hehehe…hari pertama di Jakarta, dia dah berlumpur-lumpur ria…..

Bahkan, big boss pun open house rumah barunya di PIK. Usai berkotor-kotor ria, sebagian teman-teman Da Ai TV, menuju rumah babeh, yang ga jauh dari lokasi penanaman bakau.

Disini, kami disuguhi aneka makanan lezat, walau vegetarian…

Lalu bersilahturahmi dengan keluarga babeh, sampai-sampai anaknya om bogie ga rela buat pulang, masih asik main sih…

Kebersamaan dalam lumpur, judul ini kuberikan karena sudah lama kami tidak berkumpul seperti ini. Di tahun yang lampau, acara kumpul-kumpul di luar kantor bersama keluarga seperti ini, biasanya terjadi bila ada salah satu dari kami yang nikah. Tapi sudah lama tidak ada yang nikah lagi nih….

Home, 9 Juni 2008

3 thoughts on “Kebersamaan dalam Lumpur

  1. Mungkin asyik ya main lumpur yang hanya menenggelamkan sebatas kaki kita
    Tapi apa jadinya bila lumpur itu menenggelamkan rumah, sawah, sekolah, tempat ibadah, dan segalanya nyaris tak tersisa seperti di Sidoarjo sana.
    Apa kita masih bisa ketawa?

  2. Gw nonton taping kabaret politik Teater Koma di Metro TV, salah satu yang mereka sindir adalah daerah PIK yang merupakan daerah resapan tanah, namun malah dibangun perumahan, rawa-rawa diuruk, dsb. Semoga dengan menanam pohon bakau, bisa memperbaiki lingkungan hidup di sekitar sana. Namun akan jauh lebih baik lagi kalau pembangunan perumahan dsb itu dapat dikontrol… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s