Sepenggal kisah Singkawang – Taiwan

Bun Xin Tho (depan) dan mamanya....

Sosoknya mungil…

Bahasa tubuhnya terlihat lemah, namun kalau diperhatikan, tersirat kekuatan dan ketabahan…

Dialah A To, seorang perempuan asal Singkawang, Kalimantan Barat.

SUdah 20 tahun ia menikah dan tinggal di Taiwan, sebuah kisah klasik di kalangan warga Singkawang. Anak perempuan dinikahkan dengan laki-laki Taiwan. Imbalannya, keluarga mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalan. Ironisnya, kebahagiaan sepanjang hidup menjadi taruhan dan hanya diimbali dengan sejumlah uang yang mungkin akan habis dipakai dalam rentang waktu sangat singkat. Keadaan ini terjadi karena terpicu oleh faktor kemiskinan dan pendidikan yang minim. Akhirnya, harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, tidak terletak pada kerja keras dan dedikasi, namun pada sebuah hal instan.

Inilah yang terjadi pada A To. Meninggalkan kampung halaman pada usia 32 tahun dan baru bisa kembali saat usianya 52 tahun.

Kisah tentang A To ini, kudengar dari seorang kolega di kantor. Kisah hidup dia di Taiwan, sempat jadi headlines di media sana. A To, ditemukan oleh insan Tzu Chi Taiwan sedang makan dalam satu wadah yang sama dengan kucing. Rambutnya awut-awutan ga keurus. Ia tinggal sebatang kara.

Ingatannya agak terganggu. A To sempat trauma ketika gempa bumi besar melanda Taiwan pada 21 September 1999. Sejak saat itu, traumanya tidak pernah hilang. Kemudian 3 tahun yang lalu, sang suami meninggal dunia. Meninggalkan A To sendiri di tanah asing. Mertua sudah tidak ada, keturunan tidak punya. Hidup sebatang kara, dan tekanan batin berat yang dialaminya membuat A To seperti hilang akal sehat.

Ia hidup terlunta-lunta tanpa ada jaminan apapun dari pemerintah Taiwan. Entah ketidaktahuan atau unsur kesengajaan, suami A To tidak melaporkan keberadaan A To pada pemerintah Taiwan. Sedangkan di Indonesia, status kewarganegaraannya juga dipertanyakan, karena ia tak pernah pulang ke Indonesia sejak menikah.

Setelah ditemukan oleh insan Tzu Chi Taiwan, A To dibimbing secara konsisten. Sampai akhirnya, keadaan batinnya sudah stabil, dan kesehatan fisiknya pun pelan-pelan pulih.

Langkah selanjutnya setelah kesehatan fisik dan batin A To pulih, adalah memikirkan bagaimana ia pulang ke Indonesia.

Informasi mengenai keberadaan keluarga A To di SIngkawang segera dicari, setelah ketemu, pihak Imigrasi Taiwan segera mengirimkan wakilnya untuk menjemput salah satu keluarga A To untuk ke Taiwan. Yang menjemput ke Taiwan adalah adik laki-laki A To, ia membantu A To mengatur kepulangannya ke Indonesia. Pilihan memulangkan A To ke Indonesia karena di sini, ada sanak keluarga yang merawatnya.

Tanggal 2 jUli 2008, aku turut dalam rombongan kecil yang mengantar A To, kembali ke SIngkawang. Pagi-pagi sekali kami sudah tiba di bandara SOekarno Hatta. Kegelisahan dan ketidaksabaran A To, kurasakan.

Perjalanan dari Jakarta – Pontianak, sekitar 1 jam 15 menit, dilanjutkan Pontianak – Singkawang 3 jam. Perjalanan cukup jauh. Belum lagi kami harus mengalami berbagai perhentian, entah untuk makan siang atau istirahat.

AKhirnya pukul 2 siang, kami tiba di rumah keluarga A To, disambut oleh keluarganya.

A To masih memiliki mama yang usianya sudah 80 tahun lebih, namun tetap terlihat sehat. Ada kakak perempuan dan adik laki-lakinya juga.

Penyambutan berlangsung kering, tidak ada isak tangis dan pelukan hangat. Entah karena mereka tidak terbiasa ekspresif atau apa. Hanya kakak perempuannya yang terlihat terharu dan sempat meneteskan air mata. Itupun hanya sekejap.

Tiba di rumah, A To melihat sekeliling, ternyata rumah itu adalah rumah kakak perempuannya. Rumahnya lumayan bagus untuk ukuran desa. Mungkin karena kakaknya memiliki 8 orang anak dan 4 diantaranya ada di Hongkong dan Taiwan.

Sayangnya itu bukan tempat A To tinggal. A To, diatur untuk tinggal di rumah adik laki-lakinya yang berada tak jauh dari sana.

KOndisi rumahnya…..

Menyedihkan…

Terbuat dari papan kayu yang tidak rapi. Di sekelilingnya kebon yang tak terurus, pasti kalau malam banyak nyamuk. Kamar tidur hanya ada 2, sedangkan mereka memiliki 4 orang anak. Tidak memiliki kamar mandi.

Di kebun belakang ada sebuah kolam, airnya untuk memasak. Di sebelah depan ada kolam lagi, airnya untuk keperluan MCK.

wuahhh…..menyedihkan….entah mengapa mereka bisa dalam kondisi seperti itu.

A To, segera melihat kondisi sekitar. Aku tahu apa yang ada di benaknya tanpa perlu dia ucapkan. Dia tidak tahu, apakah ia bisa melalui hari-hari barunya di kampung halaman, dengan kondisi seperti ini. Apalagi A To, tergolong seorang wanita yang cukup bersih dan resik.

Sedih aku, melihat keadaan ini. Awalnya ia memiliki harapan yang besar untuk pulang, tapi melihat kondisi rumah seperti ini, dia sepertinya down.

Apalagi aku dengar, sang adik berkata, sebenernya mereka tidak mengharapkan kepulangan A To.

uughhh…..bagaimana bisa….apakah mereka tak ingat, 20 tahun lalu A To diserahkan pada orang lain dan mereka yang menikmati imbalannya….

Lalu sekarnag kala A To tidak memiliki siapa-siapa lagi di Taiwan, mereka tidak mengharapkan kehadirannya….

dasar manusia….

One thought on “Sepenggal kisah Singkawang – Taiwan

  1. kok gitu sih…
    mana boleh gitu ama kluarga sndiri…
    knapa dia ga tinggal di rumah cicinya aja?
    duh, jadi kesel, ga sepantasnya kan mereka seperti itu…

    :jadi emosi:

    hehehe…
    jenn volunteer di yayasan tzu chi ya? aku udah lama deh, pingin ikut jadi volunteer, tapi ga pernah tau aksesnya..

    salam kenal yah…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s