Keindahan Halimun

Macan tutul, tak pernah terbesit dalam benakku untuk bertemu langsung, atau berada dalam lingkungan yang begitu dekat dengan keberadaannya. Namun, ini kualami ketika berada di Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Saat itu, aku ke TNGH dalam rangka pembuatan dummy program baru. Aku dan team diajak melihat camera trap, yang sengaja ditempatkan di tengah hutan untuk melacak keberadaan macan tutul. Pihak TNGH sedang melakukan penelitian populasi macan tutul di lingkungan TNGH. Camera trap ini, sebenernya adalah kamera poket biasa yang dilengkapi fasilitas infra merah yang mendeteksi panas tubuh. Jadi kalau mendeteksi adanya mahluk hidup, kamera ini akan mengambil gambar secara otomatis.

Sepanjang jalan menuju camera trap, kami ditemani oleh 2 orang ranger. Sambil jalan, mata mereka tak pernah lepas mencari jejak macan atau tanda-tanda kehidupan hewan liar lainnya. Mereka pun tak henti-hentinya memberitahu kami semua hal yang mereka temui. Ada jejak macan tutul, sarang babi hutan, sarang macan tutul, dan berbagai macam kotoran hewan yang menjadi penunjuk bagi ranger ini akan kehidupan liar di dalamnya. Bagi kita yang awam, hal seperti ini memang tidak berguna, tapi bagi penelitian, semua hal yang kita temui disini, berguna sangat besar bagi penelitian mereka. Hutan yang kami masuki juga masih asri, semak belukar masih tinggi, sehingga kita harus menggunakan tangan untuk membuka jalan, jalannya pun hanya jalan setapak kecil yang biasa digunakan ranger untuk patroli.

Hutan konservasi

Taman Nasional Gunung Halimun, berbeda dengan taman nasional lainnya yang ada di Jawa Barat. Hutan disini, masih asri karena memang ditujukan sebagai hutan konservasi. TNGH merupakan tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah, hutan sub-montana dan hutan Montana. Hutan ini juga merupakan perlindungan fungsi hidrologis di kabupaten Bogor, Lebak, Sukabumi, bahkan Jakarta.
Tumbuhan yang mendominasi adalah Rasamala ( Altingia excelsa), Jamuju (Dacrycarpus imbricatus) dan Puspa (Schima wallichii).

Keasrian hutan ini bisa dilihat dari beberapa satwa langka yang masih bisa ditemui disini, macan tutul, owa jawa, elang Jawa dan dua jenis burung lainnya yang terancam punah yaitu burung cica matahari, dan burung poksai kuda.

Di kawasan taman nasional ini ada sebuah stasiun penelitian yang dibangun oleh peneliti Jepang. Stasiun penelitian ini, berada di sebuah lokasi yang disebut Cikaniki. Bangunannya terbuat dari kayu, khas rumah tradisional Jepang. Salah satu keunggulan dari bangunan ini adalah suhu di dalamnya cukup nyaman. Dalam artian bila suhu di luar bangunan dingin sekali, maka di dalam rumah suhunya tidak akan terlalu dingin. Begitu juga sebaliknya bila suhu panas, di dalam tidak akan terlalu panas. Rahasianya terletak pada lapisan atap yang memiliki 7 lapisan.

Di dalamnya selain ada pusat penelitian, juga ada wisma tamu yang bisa digunakan oleh wisatawan. Kami sempat menginap disini semalam.

Menelusuri hutan

Di TNGH juga ada jamur yang bisa berpendar di malam hari. Karena penasaran seperti apa wujud dari jamur itu, kami menyempatkan diri untuk melihatnya. Jadilah malam-malam masuk ke hutan. Sayangnya, saat itu adalah musim kemarau, sehingga tidak banyak jamur yang bisa ditemui. Jamur ini akan tumbuh banyak dan besar saat musim hujan.

Menelusuri hutan di malam hari ternyata seru dan menyenangkan.

Kami juga sempat melihat aktivitas kehidupan satwa di malam hari seperti musang yang sedang makan dan beristirahat.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Tujuan hari kedua kami di TNGH adalah menuju canopy trail dan menelusuri hutan mneuju bukit Andam (1350 m dpl).

Canopy Trail disini dibangun diantara 5 pohon rasamala. Ketinggiannya mencapai 25 – 30 meter. Canopy Trail ini digunakan untuk pengamatan burung dan satwa yang hidupnya di pucuk pohon seperti owa, dan jenis kera lainnya. Sayang, aku tidak sempat melihat owa Jawa, walau pemandu kami sudah mencari dengan seksama, tetap saja sang Owa tidak memunculkan sosoknya.

Rute berikutnya adalah menuju puncak Andam. Disebut demikian karena di puncak bukit bertebaran pohon Andam.

Sepanjang perjalanan dari Cikaniki ke bukit Andam, ada sebuah spot yang menjadi pusat penelitian disebut spot Suzuki, karena Suzuki adalah orang Jepang pertama yang melakukan penelitian di tempat ini. Jalur dari Cikaniki menuju spot Suzuki, masih lumayan mudah, karena ada jalan-jalan setapak yang memang snegaja dibuat untuk memudahkan peneliti. Di tempat inilah kami sempat beristirahat, setelah berjalan kaki selama 1 jam lebih.

Perjalanan dilanjutkan lagi menuju bukit Andam. Jalur yang kami lalui mulai terlihat cukup sulit. Jalanan menanjak, hutan lebat dan licin. Kira-kira kami berjalan selama 45 menit, dengan medan yang menanjak. Kami cukup ngos-ngosan. Bahkan sempat berhenti beberapa kali. Perjalanan ini dipersulit karena kami harus mengambil gambar juga. Sebuah pekerjaan ekstra bagi kameraman kami. Tapi hebatnya dia dengan lincahnya berlari kesana kemari.

Ketika tiba di bukit Andam, kami segera dibuat lupa perjalanan yang sangat berat tadi. Pemandangan begitu indah, di depan kami adalah hamparan kebun teh. Kami berdiam disana sekitar 1 jam, rasanya berat sekali meninggalkan tempat yang indah itu. Apalagi kami masih harus menempuh perjalanan pulang, sekitar 2 jam.

Perjalanan pulang, cukup jauh karena kami memutar dan tidak lagi menuju CIkaniki, tapi menuju bumi perkemahan di Cintalahab. 60 persen dari jalur pulang yang kami lalui adalah hutan belantara yang hanya ada jalan setapak. Bahkan kalau kita di lepas sendirian di hutan, tidak akan tahu jalan pulang, karena jalan setapaknya jarang digunakan dan benar-benar tersamar. 40 persen sisanya adalah jalur penelitian, yang sering digunakan.

Sepanjang jalur penelitian, aku memperhatikan ada banyak pita-pita yang menandakan bahwa pohon ini sedang diteliti. Sempat kami melihat sebuah pohon rasamala yang konon adalah pohon terbesar di TNGH ini. Usianya sudah ratusan tahun, untuk memeluk batang pohonnya harus 4 orang. Terbayang kan seberapa besar pohon itu.

Di hutan ini aku juga diperkenalkan pada berbagai macam tumbuhan obat yang memiliki banyak khasiat. Ada yang bisa menahan haus, ada yang untuk keperkasaan, ada lagi untuk pengurang demam dan lain-lain.

Lumayan, perjalanan kali ini menambah infomasi mengenai tanaman obat.

Ohya, sudah menjadi peraturan disini, bahwa pengunjung tidak diperkenankan mengambil atau membawa keluar apapun dari taman nasional ini. Pelanggar akan dikenakan sanksi yang ditetapkan oleh pihak TNGH.

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s