Ada apa di Halimun 2

Stand in, sambil nyemplung....

Taman Nasional Gunung Halimun ini menyediakan beberapa spot perkemahan. Atau bila ingin menikmati suasana pedesaan, bisa menginap di rumah penduduk. Saat itu, rencana awalnya kami ingin membuat kemah, namun karena ada kesalahan teknis pada tenda yang dibawa, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah warga yang memang disewakan.

Dinding kamarnya terbuat dari anyaman rotan. 1 kamar bisa dihuni 3 orang, karena ada ranjang dan kasur lebih.

Hari itu, setelah berjalan kaki seharian, kami cukup lelah. Sehingga kami memutuskan untuk meminta warga setempat memasak makan malam, kebetulan kami membawa bekal sendiri, karena sudah bersiap untuk tinggal di kemah.

Jadilah, malam kedua kami di Halimun, dihabiskan dengan menikmati makan malam di beranda seorang warga. Entah masakannya yang lezat, atau suasana yang asik atau kami kelaparan, aku makan banyak malam itu. Padahal menunya hanya kornet dan ikan sarden, serta tahu tempe.

Wuah….nikmatnya dunia…

Kehidupan warga di sini, sangat sederhana. Kebanyakan dari mereka bekerja di perkebunan teh atau menjadi staf taman nasional. Lewat maghrib, aktivitas mereka kebanyakan di rumah.

Warga disini belum terjamah aliran listrik dari PLN, dan mereka menggunakan pembangkit listrik tenaga air (microhydro) sebagai sumber tenaga. Di sekitar desa ada aliran sungai yang tenaganya bisa dipakai.

Setelah penat dengan kehidupan perkotaan, sekali-kali merasakan kesederhanaan kehidupan di desa, menyenangkan sekali. Udara yang segar dan bersih, suasana yang tenang, hubungan kekerabatan yang ramah…indahnya dunia…

Masyarakat sini pun tidak perlu memikirkan tagihan air bersih, karena air selalu mengalir 24 jam tanpa henti. Aku saja, benar-benar menikmati ritual mandi disini. Uughh..kalau dibayangkan, ingin sekali kembali kesana.

Sayangnya waktu kami tak banyak dan harus segera kembali ke Jakarta. Tapi tempat ini, benar-benar aku rekomendasikan untuk pencari ketenangan.

Jarang-jarang bisa liat camera trap di hutan...

Akses menuju tempat ini dari Jakarta, memang sangat jauh dan sekitar 19 km terakhir atau bila ditempuh dengan mobil memakan waktu 2 jam, jalanan yang dilalui berbatu. Tidak ada jalanan beraspal dan mulus menuju tempat ini. Setelah dicari tahu, ternyata hal ini memang disengaja oleh pihak TNGH, agar pengunjung yang datang kesini, benar-benar pengunjung yang berminat untuk menikmati alam dan menjaganya. TNGH adalah hutan konservasi, bila terlalu banyak pengunjung yang datang kesini, tentu habitat di sini bisa rusak. Mungkin saja di masa depan tidak ada lagi owa jawa, macan tutul dan burung elang jawa.

Halimun, 25 – 27 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s