Pre marital class

Tingkat perceraian yang tinggi di kalangan masyarakat, apalagi adanya trend kawin cerai di kalangan selebriti dan diekspose secara besar-besaran dalam infotainment. RAsanya ga berlebihan, bahwa gereja sebagai sebuah institusi agama, mencoba untuk mengurangi jumlah fenomena kawin cerai di kalangan jemaatnya. Di berbagai gereja prebystarian, sebelum pemberkatan di gereja, pasangan wajib mengikuti pre marital class. Di kelas ini dibahas banyak aspek tentang pernikahan seperti tujuan pernikahan, komunikasi, apa itu cinta, bagaimana hubungan mertua, anak dan menantu. Intinya, pasangan dipersiapkan untuk menghadapi pernikahan sebagai sebuah fase dalam kehidupan.

Mengikuti kelas ini, aku disadarkan banyak hal. Dimulai dari tujuan pernikahan. Dulu, aku pikir menikah yah menikah, ga ada yang berubah, apalagi aku dan pasangan udah cukup lama menjalin hubungan, rasanya kalaupun menikah ga akan ada banyak hal yang berubah. Tapi, ternyata disini dikupas dan dipertanyakan pada masing-masing pasangan, apa sih tujuan menikah?

Karena kami jemaat sebuah gereja Kristen, tentu saja tujuan pernikahan ga jauh-jauh dari Tuhan kami. Diharapkan, masing-masing pasangan bisa membentuk sebuah rumah tangga yang bisa menjadi berkat bagi orang lain. Sebagai manusia, setiap orang pasti memiliki ambisi dan cita-cita yang ingin dicapai (tentu saja yang dibicarakan disini adalah nilai-nilai positif). Nah, dalam pernikahan, setiap pasangan diharapkan dapat bersinergi dan saling menguatkan untuk membawa pernikahan mereka menjadi berkat.

Mau tahu konteks kami berdua ? Seperti ini : Kami berdua, ingin sekali memiliki rumah tangga yang bahagia dan menjadi berkat. Aku, secara pribadi memiliki ketertarikan untuk terjun di bidang social dan lingkungan. Pasanganku, ingin sekali melalui pekerjaannya, dia bisa melayani dan mengedukasi masyarakat. Dengan adanya tujuan berbeda ini, kami harus bisa saling menguatkan untuk mencapai cita-cita itu.

Dulu, aku termasuk orang yang pesimis untuk memiliki keturunan. Melihat kondisi dunia yang semakin ga menentu dan kacau ini, aku ga tega untuk melahirkan keturunanku. Tapi, di kelas ini cara berpikirku berubah. Aku dan pasanganku memiliki keinginan besar bagi dunia ini. Sedangkan kami terbatas pada usia dan waktu. Suatu saat kami akan meninggalkan dunia ini. Nah, agar perjuangan kami bisa terus berjalan, kami harus bisa mewariskan semangat ini pada anak-anak kami, dan berharap dengan kepandaiannya serta waktunya di dunia, ia bisa berbuat lebih banyak dan lebih besar dari kami. Begitupula seterusnya. Untuk menciptakan dunia yang lebih baik tak cukup hanya dengan satu masa kehidupan saja. Tapi butuh kontinuitas dan regenerasi.

Dalam kehidupan rumah tangga, setiap insan memiliki kebiasaan, ketertarikan dan sifat yang berbeda. Cara untuk mengatasinya sangatlah mudah yaitu dengan komunikasi, berlapang dada dan sikap fleksibel. Sifat keras kepala dan egois harus diminimalisasi di dalam keluarga.

Wah..ternyata pernikahan tidaklah sekedar pernikahan dengan sebuah pesta mewah yang mengundang decak kagum. Kehidupan pernikahan sesunggunya dimulai setelah malam pertama…..

…..malam pertama, sungguh menggoda…..selanjutnya terserah anda….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s