My last day as a single woman

12 September 2008, jadi hari terakhirku dengan status lajang.

Naik turun emosi, bener-bener kurasakan hari ini. Di siang hari, ketika aku menghabiskan waktu dengan teman kantor, aku merasakan suatu kekosongan. Aku tidak merasa, esok adalah sebuah hari bersejarah dalam hidup. Sepertinya semua hanya biasa saja. Bahkan aku sempat menanyakan ke seorang teman yang sudah menikah, apa sih perasaan dia, saat mau menikah. Pertanyaan ini kulontarkan, karena aku sendiri bingung, perasaan apa sih yang seharusnya dirasakan oleh orang yang mau menikah. Ternyata, jawaban dari temanku itu, mirip dengan aku, “Ingin semuanya cepat berakhir.” Yah, keriuhan ini hanyalah sebuah fase. Pertunjukan sebenarnya ada setelah hari ini berakhir.

Sore hari, lebih rusuh kondisinya. Ke salon, untuk persiapan besok. Ketemu pendeta, dan gladi bersih di gereja.

Di momen ini, aku merasakan emosi yang berbeda dengan di siang hari. Sebuah perasaan tidak mau menikah, dan tidak siap menyeruak dari hati paling dalam. Berhadapan dengan pendeta pun, aku merasakan keragu-raguan untuk melanjutkan acara esok. Dalam sesi pertemuan terakhir sebelum pemberkatan ini, beliau mengangkat topik masalah yang sering dihadapi oleh kaum muda, yaitu sex, komunikasi dan uang. Walau obrolan berlangsung santai dan terbuka, aku masih merasa gundah.

Beribu perasaan tidak nyaman, juga menyeruak ketika aku latihan berjalan menuju altar. Perasaan itu, lebih ke rasa takut, tidak rela melepas masa lajang, masih pengen hura-hura.

Puncaknya, ketika kita sedang latihan prosesi. Terutama saat pengucapan janji nikah. Kalimatnya begini..

“SAya, Jennifer Lie, berjanji di hadapan Tuhan, akan setia sebagai seorang istri. Berjanji, akan mematuhi perintah Tuhan. Akan mendampingi dalam susah dan duka. Sakit dan sehat. Dalam berkelimpahan maupun kekurangan. Saya berjanji untuk setia menghormati dan mengasihi, mulai saat ini hingga selama-lamanya. Amin “

Begitulah kira-kira yang aku ingat.

Mengucapkan kalimat itu, di hadapan semua orang, di tatap dengan penuh cinta, sekilas, ada sebuah perasaan,”this is a dream comes true.”

Tapi tetap saja ada perasaan takut dan tidak nyaman. Seperti ada yang menganjal, entah itu apa.

Yah kita lihat saja besok gimana. Sekarang hari hampir berakhir. Sudah pukul 23.44 PM.

Time to sleep….

Besok jam 5 udah harus bangun untuk make up.

Tomorrow, will be a new day, new spirit, new life….

12 September 2008

3 thoughts on “My last day as a single woman

  1. Wah, hari ini mulai lembaran baru yaaa…
    congratz yah…..
    Semoga rasa ga nyaman dan takut itu hilang, digantikan dengan rasa syukur dan keyakinan bahwa yang ada di depan hanya satu: kebahagiaan.

    However, Have a happy new life… ^__^

  2. Take it easy jen … u look great today🙂
    berkilau2 gitu ..

    I wish u and bajaj the best of time

    Gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s