Dua belas

Dua belas, menjadi tema untuk resepsi pernikahan kami, 14 September 2008. Tema ini kami angkat, karena memang kami telah menjalin hubungan selama itu. Kecuali sahabat dekat kami, tidak banyak orang yang tau seluk beluk bagaimana kami bisa jadian.

Sekitar 12 tahun lalu, saat aku masih kelas 1 SMA dan Jay 2 SMA, kami berkenalan.

Semuanya bermula dari taruhan bola antara Manchester United – Wimbledon. Tadinya cuma iseng-iseng aja, apalagi kita baru aja kenalan, dan baru tau kalo kita berdua demen nonton bola. Taruhannya yang kalah traktir makan. Aku sih tau, kalo taruhan ini sebenernya cuma taktik Jay doang buat pdkt (taulah, gimana sih anak abg kalo pdkt). Iseng aku ladenin aja, aku pegang MU, Jay pegang Wimbledon. Buat penggemar bola pasti inget deh, pertandingan itu adalah saat David Beckham, tendang bola dari setengah lapangan dan MASUK.

Udah ditebak, aku menang taruhan !

Jay pun menepati janjinya untuk traktir aku. Dia traktir baso di kantin, saat itu adalah 18 Agustus 1996.

Sejak itu, pendekatan berjalan lancar. AKhirnya, Jay “meminta” aku untuk jadi pacarnya. Hari itu adalah 20 September 1996, jatuh di hari Jumat.

Masa-masa jadian kami, sama dengan orang lain, penuh masalah, amarah, posesif, emosi, cemburu, egois dll.

Bahkan kami sering berantem untuk hal kecil dan sepele. Untuk main volley aja, aku harus berantem besar ma Jay. Kalau mau kencan, dan aku pakai baju yang agak terbuka atau ketat, doi pasti marah. Kadang, kencan bisa batal juga, karena hal sepele ini.

Namun, waktu dan pengalaman hidup, ternyata merubah Jay dan aku. Kita makin dewasa, pikiran makin terbuka, prinsip hidup kita pun makin mantap. Semua pengalaman hidup ini, membantu kami dalam “melancarkan” hubungan. Masa-masa berantem sih tetep aja ada, tapi udah bukan seperti dulu lagi yang selalu berantem karena emosi, sekarang kalo berantem, pasti karena ada penyebab yang lebih logis.

Kemantapan dia dalam berpikir dan kemauan dia untuk bisa mengikuti perubahan yang aku alami, itu yang aku suka dari dia.

Kalau sifat Jay, masih seperti yang dulu, udah pasti aku ga bakalan kawin ma dia. PAsti begitu juga dengan dia, Jenni yang dulu beda dengan sekarang.

Yah…kehidupan selalu berubah, keadaan berubah, dan kami pun berubah, yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri, dan cinta…

 From 12 years ago, until now, I see love in his eyes. And it never changed…

Cinta dan kemauan kami untuk terus beradaptasi dengan keadaan, membuat hubungan ini bisa terus berlanjut. Memang tidak mudah, kami pun seringkali berbenturan dengan berbagai masalah, tapi yah itu kita harus bersiap untuk berubah….

18 September 2008

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s