Leave it or deal with it??

Sejak pagi, mentari tidak sedikitpun memunculkan sosoknya..

Sebagai gantinya, hujan terus menetes dari langit..

Sebentar berenti, sebentar turun, begitu seterusnya…

Udara yang sejuk, dan bebas polusi ini pun tak ingin aku biarkan lalu begitu saja…

Segera kulangkahkan kakiku ke Coffeebean terdekat, untuk menikmati secangkir chai latte hangat, sambil membaca novel Ayu Utami.

Sedang asik-asiknya baca, tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpakaian rapi, mendatangiku sambil berbicara Tagalog. Aku pun menatapnya dengan bingung, seingatku aku tidak sedang menunggu seseorang.

Tanpa seijinku, dia duduk di depanku dan menyodorkan secarik kertas dengan hasil print di atasnya. Isi kertas itu, kira-kira adalah adanya sebuah konser musik amal untuk pencandu narkoba. Dan mereka membutuhkan dana…

Jujur saja, aku sangat meragukan bahwa ini adalah untuk konser amal, apalagi gerak tubuh si pemuda pun sangat resah. Ketika kuucapkan maaf, bahwa aku tidak bisa memberikan dana untuk saat ini. kulihat kekecewaan di matanya. Aku pun jadi ragu…

Lalu ia sambil melihat sekeliling (aku yakin dia sedang mencari mangsa selanjutnya), dan segera berpindah ke meja di sebelahku.

Di situ, seorang perempuan sedang berhadapan dengan laptopnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi pemuda itu segera berlalu.

Penasaran, aku pun bertanya dengan si perempuan itu. Kata dia, hal ini sudah biasa terjadi di Manila. Mereka berkeliling di tempat ramai, untuk meminta sumbangan dari orang asing (entah sumbangan itu benar-benar untuk aktivitas sosial atau untuk pribadi, si perempuan itu tidak terlalu pasti). Tapi sesungguhnya mereka dilarang untuk memasuki tempat umum seperti mall. Karena di kampus, sekolah-sekolah dan berbagai organisasi sudah sering diadakan fundraising untuk kaum papa. Kata si perempuan, terlalu banyak kaum papa di negri ini.

Usai penjelasan si perempuan, pikiranku melanglang buana. Sebegitu miskin kah rakyat Filipina? Bila iya begitu adanya, berarti kesenjangan antara kaya dan miskin sangat jauh sekali.

Selama aku di Manila, aku perhatikan kawasan Makati CBD, benar-benar dijaga, agar tidak terlihat kemiskinan. Sedangkan di luar Makati CBD, kita baru bisa melihat kehidupan sesungguhnya warga Metro MAnila. (Sampai ada celetukan, Makati adalah surga, di luarnya adalah neraka)

Belakangan ini, menjelang Natal, aku semakin banyak melihat adanya anak-anak yang meminta uang di lampu merah. Tapi mereka tidak terang-terangan meminta, mereka menjual rangkaian bunga melati. Setidaknya, mereka ada usaha lah…

Sekelumit pemikiran, langsung menderaku. 

DI mana-mana, kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki kehidupan yang seberuntung kita. Terkadang mereka harus mengemis untuk mencari sesuap nasi.

Bila, seorang pengemis datang pada anda, akankah anda memberikan sejumlah uang yang ia butuhkan? atau anda akan membiarkan ia berlalu, dan tidak peduli dengan keadaannya?

Kita selalu diajarkan untuk memberikan kepedulian bagi sesama. Dan ini adalah hal kecil yang bisa kita lakukan bagi yang membutuhkan.

Di Jakarta, pengemis sudah menjadi profesi, sehingga terkadang kita tidak tahu, apakah pengemis ini masuk dalam sebuah sindikat, atau ia benar-benar seorang yang membutuhkan pertolongan. Tak jarang, akhirnya kita pun bersikap cuek.

Tapi bagaimana, bila kita bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh membutuhkan? 

Akankah kita membiarkan ia berlalu dan bertindak seolah tidak peduli? 

Atau….

KIta memilih untuk peduli dan membantunya???

Satu hal yang pasti, Pe-er ku di Manila adalah mencari tahu, bagaimana sesungguhnya kehidupan disini.

2 thoughts on “Leave it or deal with it??

  1. Kalo mau memberi sedekah kepada pengemis cilik, lebih baik jangan berupa uang. Soalnya uang receh dari kita juga yang membuat mereka tetap bertahan di jalanan. Selain itu, uang biasanya akan disetor kepada ‘koordinator’ pengemis, atau kepada orang tua. Kalo mau ngasih sesuatu yang 99% bakal langsung mereka nikmati (dan berguna buat kesehatan mereka), mendingan kasih susu dalam kemasan kotak. Rata-rata pasti diterima, apalagi kalo rasa cokelat, mmm… ^^

  2. Berbuat baikklah tanpa banyak berpikir karena itu lebih baik dibandingkan banyak berpikir tanpa berbuat baik. Silahkan baca sharing lengkapnya di blogku. Salam dari sudut pasar baru, Jakarta. he he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s