Tzu Chi Philippines

Akhirnya, kesampean juga mau berkunjung ke kantor Tzu Chi Philippines. Ketika di Jakarta, aku diberikan nomor kontak Mr. Alfredo Lie, salah seorang relawan di Philippines, oleh Pak Hong Tjhin (HT), CEO Da Ai TV. Ga tanggung-tanggung, Pak HT langsung telepon Mr. Alfredo di depan aku, dan aku diminta untuk mengubungi Mr. Alfredo setibanya di Manila.

Setelah hampir 1 bulan di Manila, hari ini aku menyempatkan diri untuk “bermain” ke kantor Tzu Chi disini. Letaknya di perbatasan Manila – Quezon City. Cukup jauh dari tempat tinggal kami di Makati City, butuh 30 menit perjalanan (itu pun tidak macet).

Aku mengunjungi Klinik Tzu Chi, kebetulan ada baksos untuk katarak. Aku dan Jay diajak muter-muter ke berbagai ruangan. Untuk ukuran klinik cuma-cuma, peralatan medis di klinik ini terbilang sangat modern. Bahkan untuk operasi Katarak, mereka sudah mengunakan teknologi Laser. 

Sama seperti bangunan Tzu Chi di seluruh dunia, nuansa warna gedungnya adalah abu-abu dengan tiang penyangga dari batu.

Klinik ini menempati tanah seluas 4,5 hektar. Dulunya adalah sekolah Katolik, kemudian sekolah ini pindah lokasi dan tanahnya dijual ke Tzu Chi. Maka tak heran, masih ada gedung-gedung peninggalan sekolah ini.

Di area ini juga ada pos pemilahan sampah. dalam sebulan mereka bisa menghasilkan 500.000 peso. Jumlah yang ga sedikit loh, dan yang bikin aku tercengang, mereka memberikan semua dananya itu untuk Da Ai TV Taiwan. Wow…

Padahal untuk biaya operasional gedung, biaya pengobatan pasien, dll, aku yakin menghabiskan dana yang cukup besar, namun mereka memberikan salah satu sumber dana mereka, untuk keperluan operasional Da Ai TV Taiwan..

Di tempat ini, mereka juga mengusahakan penanaman sayuran organik loh. Sayuran ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi relawan dan staf yang bekerja di kantor Tzu CHi ini.

Setelah puas muter-muter dan diajak makan siang Vegetarian (rasanya udah bertahun-tahun ga makan, makanan yang dulu jadi menu harian aku di Da Ai TV, hehe), kami diajak ke Jing Se Tang, yang jaraknya sekitar 15 menit.

Jing Se Tang atau sering disebut Humanitarian Culture Center, tak kalah indahnya. Jay yang baru pertama kali melihat, bangunan tematik gaya Tzu Chi, ampe terpukau (sampai pulang pun, dia masih aja ngomongin kekagumannya itu).

Bangunan ini, interior dalamnya bernuansa kayu, dan warna coklat – putih. Sedangkan gedungnya sendiri, terbuat dari batu-batu yang kokoh.

Tamannya cukup luas, dan ditata apik. Menurut penjelasan Mr. Alfredo, dibutuhkan waktu 6 tahun untuk menyelesaikan pembangunan ini. Sedangkan perancangannya aja butuh 2 tahun. Bangunan ini baru aja selesai pada akhir Maret 2008, jadi dibutuhkan waktu 8 tahun hingga bangunan ini jadi.

Hebatnya lagi, di bawah taman ini, ternyata adalah sebuah hall. Luasnya seluas bangunan ini, dan lingkaran yang menyerupai kolam itu, ternyata merupakan natural light untuk Hall di bawah itu. Gedung ini juga eco friendly, sangat mementingkan bukaan-bukaan untuk mengurangi penggunaan lampu dan AC.

Phew….kesimpulannya, aku lagi nunggu nih, Jing Se Tang di Jakarta bisa segede apa ya?? Apalagi mau digabung dengan Da Ai TV, pusat kegiatan Tzu Chi dan kantor cabang Tzu Chi Jakarta..

Kita tunggu saja, 2 tahun lagi😀

19 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s