The other side of this city

Melalui jepretan seorang fotografer dokumenter, aku melihat sisi lain dari negara yang sekarang sedang kutinggali, Manila. Fotografer itu bernama Christina Luisa Sevilla. Melalui jepretan kameranya, Christina mengangkat kisah mengenai sisi kelam dari masyarakat Metro Manila yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kumpulan hasil karyanya ia beri nama “Batang Ina”. Dalam bahasa Tagalog, Batang Ina berarti “child-mother” atau “young mother”. 

Kemiskinan yang melilit kehidupan warganya, sudah pasti memberikan efek domino yang sangat luas bagi kehidupan warganya di masa-masa mendatang. Orang tua dipusingkan pada masalah ekonomi, sedangkan urusan melahirkan anak jalan terus bagai air mengalir. Dalam satu keluarga ada lebih dari dua anak. Pendidikan yang rendah, akhirnya membawa masalah bagi masa depan anak itu sendiri. Tak sedikit yang akhirnya malah berakhir dengan ironis, seperti anak-anak yang dijadikan profil oleh Christina. 

Beberapa dari anak-anak ini, sudah hidup di jalanan sejak usia yang belia, sekitar 12-15 tahun. Di jalanan pula, mereka akhirnya bertemu dengan pacar mereka yang rata-rata umurnya tak beda jauh. Seperti cerita klise, mereka pacaran, dan karena pendidikan serta bimbingan dari orang tua yang tidak ada, akhirnya mereka hamil di usia yang masih belia. Jepretan Christina juga bercerita mengenai seorang ibu muda yang harus melahirkan di lokasi yang kumuh, tanpa bantuan tenaga medis. Bahkan ia tidak mendapatkan anestesi untuk mengurangi rasa sakit saat melahirkan.

FYI, melalui informasi dari teman-teman dokter disini, kehidupan sebagai single mother dan memiliki anak di luar nikah adalah hal yang biasa disini. Berbeda dengan di Indonesia, dimana hal ini masih dianggap aib. 

Gambar yang paling “stand-out” menurutku adalah gambar seorang remaja putri yang usianya kutaksir masih sangat belia, sedang meneteki anak bungsu. Sedangkan dipangkuannya masih ada seorang balita yang usianya sekitar satu tahun. Filenya bisa diliat disini  http://www.ateneo.edu/index.php?p=120&type=2&sec=0&aid=5246

Tentu saja ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus kemanusiaan di Manila. Belum lagi kasus child abuse, Drugs, child prostitution, HIV, Penyakit kelamin dll…..

Tapi satu hal yang pasti, bagi turis yang berkunjung ke negara ini, tidak akan menyangka Filipina juga menghadapi kasus kemanusiaan yang kompleks. Bila menginjakkan kaki di CBD seperti Makati, Ortigas, Greenhills,dll sangat jarang menemukan gelandangan atau anak jalanan. Tapi begitu menginjakkan kaki di luar CBD, barulah keliatan sisi lain (aku pernah mengatakan Makati city is a heaven, then outside Makati is a Hell). Bedanya bener-bener jomplang.

Phew….

Ps. Menurut data Unicef, dalam 100.000 kelahiran ada sekitar 200 ibu yang meninggal. Bila dihitung-hitung perharinya ada 11 wanita meninggal karena melahirkan. Aku memang sering melihat adanya spanduk-spanduk untuk menggiatkan kepedulian akan kesehatan ibu dan bayi, namun untuk implementasinya, entahlah…..

3 thoughts on “The other side of this city

  1. nice, practice terus skill nulis lu, jen
    data please .. data, apalagi kalau ada narasumber, bakalan bagus..
    just like BBC without the video..

  2. Sepengamatan gwe yang namanya kemiskinan itu ada di seantero penjuru dunia. Mulai dari negara super duper miskin yang ada di beberapa wilayah di afrika, berlanjut di asia hingga pelosok jepang, bahkan si amerika, sebagai konsekuensi logis dari pembangunan, modernisasi, dan rekan-rekannya. Termasuk di dalamnya itu ya pelanggaran HAM, pelecehan seksual, kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan berbagai hal-hal yang ngeri lainnya.

    Ya termasuk tentu saja di Filipina dan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi dan pelanggaran terhadap HAM yang lumayan banyak kasusnya di dunia.

    Potret-potret yang Christina Luisa Sevilla rekam itu adalah gambaran terburuk dari pelanggaran HAM yang gak cuma bisa selesai hanya dengan memperbaiki tingkat kepedulian terhadap angka kematian anak dan ibu melahirkan atau memperbaiki gizi mereka.

    Di jalan Mangga Dua Raya setiap malam, di saat jalanan padat merayap baik oleh mobil, motor, orang, hingga pedagang kaki lima, akan sangat mudah kita temui anak-anak seperti di Filipina yang disebut sebagai Batang Ina. Dan tinggalnya pun gak jauh-jauh dari situ, di dekat stasiun Kampung Bandan yang artinya hanya berjarak 50 meter dari daerah operasi mereka, hanya berjarak 500 meter dari kantor kita.

    Jadi… tidak hanya soal polisinya saja Jen yang berwatak sama dengan polisi kita, tapi juga berbagai permasalahan sosial lainnya. Kayaknya bisa jadi bahan refleksi, inspirasi dan berita malah untukmu nanti setelah kembali dari sana.

    Btw.. dengan senang hati kalo tiga buku yang gwe maksud di blog gwe itu bisa lo belika jika ada di sana. Tar ada biaya penggantinya deh… hehehehe

    good luck then..

    rena

  3. Setuju!!!!!
    cuma kadang heran aja, ama orang-orang yang menganggap negara selain Indonesia terutama Eropa, Amerika, Australia, Jepang dll pasti hidupnya makmur, enak, ga ada gelandangan.

    Nyatanya…samimawon….

    Tentu boleh dong,
    gw sempet liat yang White Tiger itu ada disini…
    kalo yang duanya belom pernah liat sih, tapi kalo dicari-cari pasti nemu..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s