I hate you but I will become like you

Ketika masih kerja dulu dan posisi masih di level bawahan, saya sering merasa bete dengan keputusan manajemen yang menurut saya tidak adil dan tidak manusiawi. Namun, ketika saya menduduki posisi superior di kantor, keputusan yang saya terbitkan pun ada juga yang tidak disukai oleh anggota tim.

Hal seperti ini juga sering berlaku pada kehidupan sehari-hari terutama dalam hubungan antar individu. Sering kali saya bete dengan si A atau si B, karena sifatnya yang menyebalkan atau tindakannya yang tidak bisa dimaafkan.

Misalnya saja, ketika saya baru beberapa bulan di Manila, saya kenal dengan sekelompok orang Indonesia di sini. Berkenalan dengan orang baru, lingkungan baru, pada awalnya sangat menyenangkan. Namun seiring dengan durasi interaksi yang semakin meningkat, mulailah terjadi bermacam konflik. Saking keselnya dengan tingkah orang itu yang tidak sopan, tidak mau menghargai orang lain dan bertingkah semau gue, akhirnya saya pun bertingkah hal yang sama di hadapan orang itu. Saya tidak menghargai dia, saya tidak sopan dengan dia, tidak mau menegur dia, dan seribu tindakan yang saya anggap sangat menyebalkan. Semua itu saya aplikasikan ke orang itu.

Akhirnya dengan tindakan saya yang negatif itu, tanpa sadar saya sudah seperti dia. Mungkin saja karena tindakan saya (walaupun niatan saya hanya ditujukan untuk orang itu), tapi ada orang lain yang juga merasa sebel,” Kok si Jenni, jutek dan ketus amat ya….atau kok si Jenni ga tau aturan ya, maunya semau gue aja.”

Nah, jadinya apa bedanya saya dengan orang yang saya sebel?
Sama kan?

Kemudian saya teringat ada seorang teman yang berkata,” Kalo elu sebel ama dia dan elu bertingkah jutek juga ke dia, nah apa bedanya elu ma dia? Mending elu coba berbaikan dengan dia, dan memaafkan. Setidaknya dengan begini elu tidak sama dengan dia yang menurut elu menyebalkan.”

Dipikir-pikir, apa kata si teman itu memang benar.
Kebencian dilawan dengan kebencian hasilnya konflik tidak akan berakhir. Kita harus berbeda dengan orang itu dengan memancarkan pikiran dan tindakan positif.

Mengucapkan maaf saja tidak menyelesaikan masalah, yang penting bagaimana kita benar-benar mau memaafkan dengan tulus dan bisa berinteraksi lebih akrab dengan orang itu.

Peace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s