Keindahan yang Tersembunyi

 

Keindahan yang Tersembunyi

“Kumusta?” Ucapan ini cukup ramai diucapkan di kalangan Filipino; yang berarti: apa kabar?. Bila anda berkunjung ke Filipina, dan mendengar warga setempat menegur anda, anda cukup menjawab “mabuti naman, salamat po” yang artinya: “saya baik-baik saja, terima kasih”, dan biasanya mereka akan merasa dihargai, apalagi bila tahu bahwa anda adalah turis asing.

Sebagai negara tetangga yang cukup dekat dengan Indonesia, pariwisata Filipina jarang terdengar sampai ke bumi pertiwi. Padahal ada beberapa tempat pariwisata di negara ini yang sangat terkenal di dunia internasional, salah satunya adalah Boracay – yang termasuk dalam jajaran 10 pantai terindah sedunia, bersaing dengan pantai Myrtle di Carolina Selatan yang bertengger posisi teratas, beberapa pantai di kepulauan Hawai, Mexico dan Australia. Selain Boracay, ada satu tempat lagi yaitu Coron yang konon menurut warga Filipina, keindahan tempat ini sama dengan keindahan pantai Boracay sepuluh tahun lalu ketika masih asri dan belum komersil. Coron juga menjadi destinasi yang tepat bagi para penggemar wreck diving. Berikut adalah perjalanan saya menuju kedua tempat indah ini.

Perjalanan saya menuju Boracay adalah perjalanan pertama saya di negeri yang terkenal akan es halo-halo ini. Perjalanan ini sungguh di luar dugaan saya, untuk pertama kalinya saya naik pesawat baling-baling dengan jumlah penumpang hanya 32 orang dan saya harus menimbang berat badan beserta bagasi saya saat di konter cek-in. Menurut informasi, semua pesawat yang mendarat di Caticlan adalah pesawat baling-baling, karena ukuran bandara yang cukup kecil, sehingga pesawat sekelas Airbus dan Boeing tidak bisa mendarat disini. Perjalanan dari Manila menuju Caticlan ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam.

Setibanya di bandara Caticlan, saya masih harus menuju pelabuhan penyeberangan ke pulau Boracay, dengan menumpang tricyle yaitu moda transportasi lokal dengan motor yang berada di sebelah kiri dan kompartemen penumpang berada di sebelah kanannya; bentuknya menyerupai bentor atau becak motor yang berada di Indonesia. Perjalanan dengan tricycle cukup menegangkan bagi penumpang pertama kali seperti saya, karena medan jalanan yang sempit dan tidak menentu, terkadang menanjak, menurun ataupun berkelok tajam. Untuk mengalihkan rasa was-was, saya memusatkan perhatian pada kehidupan warga setempat yang saya lewati sepanjang perjalanan. Menurut pengamatan saya, kehidupan warga disini sangat mirip dengan kehidupan di pedesaan Indonesia, hanya saja disini mereka mengerti dan dapat bercakap dalam bahasa Inggris. Satu hal yang saya kagumi dari warga di sini adalah mereka sangat menaati peraturan dan peran pemerintah lokal dalam mengatur moda transportasi setempat patut diacungi jempol. Saya tidak menemukan adanya pungli ataupun biaya transportasi yang lebih mahal dibandingkan yang resmi, karena semua pembayaran harus melalui konter dan pengaturan serta antrian transportasi sangat lancar dan memudahkan pengunjung. Jadi, anda tidak perlu khawatir terhadap pungutan liar ataupun pemerasan terhadap turis asing.

Selepas turun dari perahu di pulau Boracay, saya masih harus menumpang tricycle sekali lagi menuju pusat keramaian Boracay yaitu White Beach. Begitu tiba di White Beach, seketika itu juga saya langsung jatuh hati. Pasirnya yang lembut dan putih bersih; air laut yang tenang dan jernih sungguh sebuah surga bagi penikmat pantai. Sebuah nilai tambah dari pantai ini adalah tidak ada karang ataupun batu koral, jadi anda bisa menapak hingga ketinggian air 1.50 meter tanpa khawatir menginjak karang, rumput laut ataupun satwa laut lainnya. Disinilah, anda bisa menikmati sensasi berenang di laut seperti berenang di kolam renang ditambah dengan ikan-ikan kecil yang ramah. Sesuai dengan namanya White Beach benar-benar pantai yang putih, bersih dan indah.

Salah satu hal yang saya nikmati selama berlibur di Boracay adalah berjalan kaki menyusuri pantai sejauh 4 km, saya membiarkan diri saya bergerak menurut intuisi. Di manapun saya ingin duduk menikmati pantai; berendam; makan; ataupun berbelanja, semuanya tanpa perencanaan dan mengalir ringan.  Karena di sepanjang garis pantai ini tersebar puluhan hotel, restoran, bar dan spa. Variasi makanan di tempat ini pun beragam, dimulai dari makanan laut yang masih segar; steak ala Barat; Korean food; Japanese food, Chinese food, atau Filipino food semua tersedia di lokasi ini. Sungguh sebuah kebebasan untuk memilih bagaimana menghabiskan waktu di pantai indah ini.

Saat hari menjelang senja, kontan suasana di sepanjang White Beach berubah menjadi lebih meriah. Setiap bar, restoran maupun toko cendera mata berlomba untuk memamerkan keunikannya masing-masing guna menarik pengunjung. Beberapa mencoba untuk membuat istana pasir dengan ukuran yang cukup besar, sebagai atraksi berfoto bagi pengunjung. Waktu senja, juga waktu yang tepat bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan sisi lain keindahan alam Boracay berpadu dengan geliat kehidupan modernitas. 

Malam hari di White Beach berarti waktunya untuk berpesta, jajaran bar dan restauran yang ada di tempat ini mulai ramai didatangi pengunjung. Hingar bingar musik; gelak tawa; maupun riuhnya para guest relation menarik pengunjung terdengar di setiap sudut. Beberapa restoran menyediakan menu makan sepuasnya dengan harga yang cukup terjangkau; sedangkan pengelola bar menggelar meja dan kursi kecil di pantai; sehingga memungkinkan pengunjung untuk bersosialisasi sambil menikmati halusnya pasir White Beach. Berpesta di White Beach memang berbeda, ditambah dengan desir lirih ombak dan semilir angin yang menambah kemeriahan pesta.

Selain menikmati pantai dan meriahnya berpesta di White Beach, pengunjung juga bisa menyewa perahu kecil untuk kebutuhan diving ataupun hopping island; dimana kita diajak untuk berkeliling pulau-pulau sekitar Boracay dan snorkeling di beberapa taman laut. Selain itu, kita juga bisa mengunjugi beberapa pantai lainnya yang berada di pulau Boracay, seperti Bulabog Beach, dimana kita bisa mencoba windsurfing; Iling-Iligan Beach, tempat yang tepat untuk melihat-lihat gua kelelawar; atau Baling-hai Beach, tepat bagi anda yang membutuhkan privasi berlibur sambil menikmati keindahan taman laut.

Boracay merupakan sebuah pulau kecil seluas 1083 hektar yang terletak sekitar 315 kilometer di sebelah selatan Manila. Dan sangat tepat untuk dikunjungi sekitar bulan November sampai Mei, dimana udara tidak terlalu panas dan tidak sering hujan, sehingga kita benar-benar bisa menikmati pantainya dengan maksimal.

Berlibur di Boracay adalah untuk siapa saja dan dari kalangan manapun, bila anda menginginkan liburan yang mewah, nyaman dan premium, anda bisa menyewa resort-resort kelas atas yang berada di seluruh pelosok pulau ini, atau bila anda ingin lokasi yang tak jauh dari White Beach, anda bisa memilih resort yang berlokasi di station 1. Lokasi ini adalah pusatnya akomodasi kelas berbintang. Kemudian station 2, ditujukan untuk turis dari kalangan menengah dan disinilah pusat keramaian Boracay, karena di daerah ini berjejer pusat informasi turis, restoran, bar, dan mall. Sedangkan Station 3 ditujukan untuk para backpackers dan budget traveler. Semua station ini terletak di sepanjang garis pantai White Beach, anda hanya tinggal memilih akomodasi dan sensasi liburan seperti apa yang ingin anda dapatkan. Sebagai informasi, kebanyakan para turis yang memilih untuk tinggal di station 3 adalah turis asing dari Negara Barat, sedangkan turis asing dari Asia lebih memilih tinggal di station 1 atau 2.

Saat itu saya memilih station 3, sebagai lokasi bermalam, karena harganya yang cukup murah; jauh dari pusat keramaian di station 2 dan yang terpenting adalah saya ingin merasakan langsung kehidupan tradisional warga setempat. Saya mendapatkan cottage tempat saya menginap dari Internet, dan yang membuat saya tertarik untuk tinggal disini adalah tema penginapan ini yaitu nipah dan bambu, serta layanan yang penuh dengan rasa kekeluargaan. Benar saja, selama tinggal di tempat ini saya merasakan suasana rumah yang penuh kehangatan, para staf yang ramah, relasi akrab dengan sesama tamu serta menu makanan lokal yang lezat. Berlibur di Boracay sungguh berkesan, bagi saya waktu serasa berhenti berputar, karena saya benar-benar merasakan kehidupan lokal yang santai ditambah dengan keindahan pantainya.

 

Coron Island: Keindahan yang belum terjamah.

Bila Boracay menawarkan keindahan pantainya beserta hiburan malam yang fun, Coron Island di Palawan Utara yang terletak di gugusan kepulauan Calamian menawarkan wisata alam dengan pesona pantai, danau serta taman laut yang masih asri dan jauh dari komersialisme. Coron juga terkenal sebagai salah satu lokasi diving terbaik dunia, karena di lokasi ini terdapat lebih dari dua belas buah reruntuhan kapal pengangkut logistik Jepang masa Perang Dunia II. Menurut sejarah, pada September 1944, sekitar Teluk Coron ini menjadi medan pertempuran antara U.S. Navy dan kapal kargo Jepang. Kala itu pasukan Jepang mengalami kekalahan dalam pertempuran di Teluk Manila, sehingga mereka terpaksa mundur ke beberapa wilayah untuk menghindar serangan dari Amerika dan salah satunya adalah Teluk Coron. Tak disangka, pasukan Amerika mengetahui gerak Jepang ini dan pada tanggal 24, pasukan Amerika melancarkan serangan tiba-tibanya dan mengakibatkan kapal-kapal logistik Jepang ini terbakar dan tenggelam. Reruntuhan-reruntuhan itulah yang kini menjadi lokasi diving menarik di kawasan Coron. Salah satu reruntuhan yang saya kunjungi adalah Skeleton Wreck. Reruntuhan ini masih bisa dilihat dari permukaan laut karena posisi tenggelamnya kapal ini adalah dengan lunas kapal menghadap ke atas. Ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung sisa reruntuhan kapal perang, ditambah dengan sejarah kelam peperangan, membuat saya merinding kala memasuki air pertama kali. Namun, keindahan terumbu karang serta ikan-ikan kecil berwarna-warni membuat ketegangan saya sirna, tergantikan dengan kekaguman.

Selain wreck diving, di Coron Island terdapat beberapa lokasi untuk cave diving. Untuk diving di tempat ini dibutuhkan keahlian khusus, karena tingkat kesulitan dan medan yang cukup menantang. Seperti di The Cave in Baracuda Lake dengan kedalaman melebihi 40 meter, pencahayaan yang hampir tidak ada serta kondisi air yang penuh lumpur menjadi sebuah lokasi untuk menguji keberanian. Atau diving di Barracuda Lake, dimana divers bisa melihat secara langsung ikan barracuda sepanjang 1,5 meter yang menjadi “raja” di danau ini.

Coron Island, memang disebut-sebut sebagai lokasi diving berkelas internasional, namun tempat ini juga memiliki keindahan dan pengalaman menakjubkan melalui danau dan pantainya yang berpasir putih. Salah satu tempat kesukaan saya adalah Kayangan Lake, yang dijuluki sebagai danau terbersih se-Filipina. Perjalanan menuju tempat ini sungguh tidak terduga, karena ternyata kami memasuki sebuah laguna tersembunyi, dimana airnya sangat biru dan jernih. Di laguna inilah, perahu kami berlabuh dan selanjutnya kami harus berjalan kaki menaiki sebuah bukit, dimana pihak pengelola telah menyediakan anak tangga, sehingga medan menjadi lebih mudah. Tepat di puncak bukit ini terdapat sebuah gua dan di spot inilah kita bisa menikmati pemandangan laguna ini secara lengkap. Setelah puas mengambil gambar, saya melanjutkan perjalanan saya menuju Kayangan Lake. Danau yang memiliki nama lain Blue Lagoon ini tersembunyi berada di tengah-tengah bukit berbatu kapur. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kontur danau ini beserta tebing kapur dan pepohonan. Untuk memfasilitasi pengunjung, pihak pengelola telah menyediakan sebuah pelataran dari rotan guna kenyamanan pengunjung. Usai meletakkan barang bawaan, saya pun segera terjun dan berenang sampai ke tengah danau. Air di danau ini sangat tenang dan bersih, di dasar danau pun saya tidak menemukan adanya bebatuan ataupun satwa lainnya, saya hanya menemukan beberapa kelompok ikan-ikan kecil yang bermain-main di sekitar tebing-tebing. Sungguh, sebuah sensasi berenang yang tiada tara. Saya cukup lama menghabiskan waktu di danau ini, untuk berenang dan menikmati kesunyiannya.

Setelah puas bermain di danau ini, saya segera kembali ke perahu dan disana awak perahu telah mempersiapkan makan siang di sebuah pondokan yang memang menjadi tempat peristirahatan. Walau hidangan yang disajikan hanyalah ikan bakar dan cumi, namun ditengah kesederhanaan ini berpadu dengan indahnya laguna Coron Island, mungkin inilah hidangan terlezat selama saya berlibur di Coron. Usai bersantap, kami diharuskan untuk membawa kembali semua sampah-sampah kami, sebagai upaya untuk menjaga Kayangan Lake menjadi sebuah danau yang tetap bersih walau sudah terekspos oleh turis.

Tujuan selanjutnya adalah Twin Lagoon, sebuah laguna kembar yang tersembuyi dan berada di balik sebuah bukit kapur yang bernama Calis Mountain. Untuk menuju laguna ini, saya harus memasuki sebuah celah kecil yang sempit, celah ini hanya bisa dilewati saat air tidak pasang. Bila air sedang pasang, maka dibutuhkan keahlian menyelam untuk memasuki laguna ini, karena sesungguhnya celah ini merupakan bagian dari Calis Mountain tersebut, hanya saja ada sedikit bagian yang tidak tertutup air.

Untuk mencapai ke dalam laguna, tidak ada jalan lain selain berenang tapi jangan khawatir karena tersedia pelampung keselamatan. Air di laguna ini tidak jernih, namun terlihat seperti berminyak, karena di tempat inilah terjadi pertemuan arus air panas dan dingin. Jadi jangan kaget, bila anda merasakan adanya perubahan air yang cukup drastis kala berenang di tempat ini. Ketenangan dan keindahan di dalam laguna cukup mempesona, bukit kapur yang menjulang tinggi beserta pepohonan yang rindang, ditambah dengan cara menikmatinya yang unik yaitu sambil mengapung menambah kaya sensasi tempat ini. Sungguh, pengalaman yang luar biasa.

Selain Kahyangan Lake dan Twin Lagoon yang sesungguhnya berada di satu pulau yaitu Coron Island, gugusan kepulauan ini juga menawarkan keindahan pantai pasir putihnya yang mempesona seperti di Banana Island, keindahan pantai ini menyaingi keindahan pantai Boracay, tapi tentu saja tempat ini masih jauh dari komersil sehingga cukup sepi dan asri. Menuju pulau ini ditempuh selama dua jam perjalanan dengan perahu boat dari Busuanga Island, pulau induk dari gugusan kepulauan ini. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka banyak pengunjung yang memutuskan untuk mendirikan kemah di tempat ini. Sehingga bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menjelajahi pulau ini beserta pulau-pulau di sekitarnya.

Wisata di Coron Island tidaklah terbatas pada wisata alam saja, namun juga wisata sejarah di Culion Island, tempat ini pernah menjadi tempat penampung penderita kusta terbesar di dunia. Karena di awal abad ke- 20, penyakit lepra menjadi ancaman serius bagi warga Filipina, sehingga pemerintah memutuskan untuk mengisolasi penderita di sebuah tempat terisolir dan dipilihlah Culion Island. Pada tahun 1903, ada sekitar 16.000 pasien kusta disini, menjadikan tempat ini sebagai sanatorium terbesar sekaligus pusat penelitian lepra bagi para dokter. Kini, di pulau ini kita bisa menyaksikan kehidupan warga setempat yang mayoritas adalah keturunan dari pasien lepra yang kemudian menetap dan membentuk keluarga baru, tentu saja saat ini sudah tidak ada penderita lepra lagi di tempat ini. Selain sejarahnya yang menarik, di tempat ini masih ditemukan bangunan bergaya Spanyol seperti Culion Church dan Culion Fort yang masih terjaga dan kokoh berdiri.

Salah satu tetangga Culion Island adalah Calauit Island yang merupakan Wildlife Sanctuary untuk satwa endemic Filipina serta beberapa satwa dari Afrika seperti jerapah, zebra dan kijang Afrika dan lainnya. Di tempat seluas 3700 hektar ini kita bisa menyaksikan satwa tersebut hidup di alam bebas dengan sedikit sekali campur tangan manusia. Sangat menarik untuk dikunjungi bagi pecinta satwa dan alam bebas.

Menutup rangkaian wisata saya di Coron Island, saya mengunjungi Mount Tapyas, inilah puncak tertinggi di Busuanga Island dan kita bisa menyaksikan keindahan gugus kepulauan Calamian. Satu hal yang menarik mengenai Mount Tapyas ini adalah untuk tiba ke puncaknya kita harus menaiki 700 anak tangga. Namun, di setiap 100 anak tangga yang kita lewati, pemandangannya cukup spektakuler, membuat kita penasaran dengan bagaimana pemandangan di puncak gunung ini.

 Published on Panorama magazine, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s