Travel

Black Nazarene

Kerap kali, ketika konsep agama telah menyatu dengan budaya setempat, konsep iman menjadi dipertanyakan: apakah ini adalah murni aktivitas budaya ataukah sebuah refleksi dari keimanan seseorang kepada Tuhan.

Di Filipina, Black Nazarene atau Yesus Hitam dianggap sebagai patung Yesus yang bisa menciptakan mujizat bagi siapapun yang percaya padanya. Kepercayaan ini telah terbentuk sejak masa jajahan Spanyol, sekitar tahun 1700an. Sekarang, patung ini disimpan di the Minor Basillica of the Black Nazarene di Quiapo, Manila.

Setiap satu tahun sekali, patung Black Nazarene diarak keluar gereja. Prosesi yang dianggap sakral ini dilakukan guna memperingati hari dimana patung Black Nazarene dipindahkan ke tempatnya yang sekarang. Sekaligus, memberikan kesempatan bagi publik untuk menguatkan keimanan mereka terhadap yang Kuasa. Prosesi “The Traslacion of Black Nazarene” atau Perjalanan Sang Yesus Hitam telah berlangsung selama 200 tahun tanpa terputus. Setiap tahunnya acara ini dihadiri oleh jutaan pemujanya, dan menjadi salah satu festival terbesar di Filipina. Di tahun 2013 ini, pemerintah setempat mengklaim ada 10 juta orang yang berpartisipasi.

Guna mempertahankan tradisi, patung Black Nazarene yang berukuran tubuh manusia, diletakkan pada sebuah kereta yang ditarik menggunakan dua utas tali sepanjang 50 meter oleh tenaga manusia. Sebagai bentuk kerendahan hati, para penarik kereta ini diharuskan untuk bertelanjang kaki. Tentu bukan hal yang mudah, karena mereka harus berjibaku dengan jutaan pengikut yang ingin menyentuh sang Black Nazarene. Biasanya prosesi ini berlangsung selama 20 jam dengan mengikuti rute tradisional yang sama selama bertahun-tahun.

Kepercayaan setempat mengatakan, apabila seseorang mampu menyentuh patung ini, niscaya mujizat atau harapan akan menjadi nyata. Maka, banyak dari mereka yang menggunakan handuk atau kain sebagai medium untuk diusapkan ke patung ini, agar mujizat dari patung ini bisa tertular. Kepercayaan inilah yang membuat situasi prosesi selalu panas dan tegang, setiap orang berebut untuk menaiki kereta yang membawa patung Black Nazarene. Bahkan, di catatan tahun-tahun sebelumnya, korban meninggal sering berjatuhan.

Erica, 18 tahun, mengatakan dengan mengikuti prosesi ini ia berharap mendapat lebih banyak berkat untuk tahun-tahun mendatang. Lain lagi dengan Grace, 40 tahun, dengan penuh haru ia hikmat berdoa agar penyakit jantung yang telah dideritanya selama kurang dari satu tahun ini bisa sembuh. Dari beberapa orang yang saya tanyai, mayoritas mengatakan harapan mereka adalah agar mendapatkan berkat dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan yang baik dan kondisi ekonomi yang meningkat. Jika ingin ditarik lebih jauh, fenomena ini bisa dikaitkan dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Filipina. Data statistik di tahun 2011 untuk negara berpenghuni 94,8 juta jiwa ini menyatakan 49% keluarga berada di kalangan tidak mampu. Wajarlah, bila mereka mengharapkan adanya perbaikan dalam hidup dengan berdoa pada sosok yang dipercaya mampu melahirkan mujizat.

Kepercayaan akan mujizat yang dimiliki oleh Black Nazarene pun ditularkan dari generasi ke generasi. Dalam acara yang bisa dibilang cukup rawan dengan insiden ini, banyak orang tua yang sengaja membawa anak-anak mereka. Anak-anak ini, ada yang sekedar berpartisipasi, ataupun diperbantukan untuk mengusap patung replika dengan handuk-handuk yang dilemparkan.

Setiap kali menjelang diselenggarakannya prosesi sacral ini, perdebatan di kalangan gereja berlangsung. Sebagian menentang acara ini, karena dianggap sebagai pemujaan berhala. Namun pernyataan dukungan pun juga mengalir. Monsignor Jose Clemente Ignacio, seorang rektor dari the Minor Basilica of Black Nazarene, menyatakan bahwa patung ini adalah “jembatan” untuk berkomunikasi dengan Tuhan; dan dengan tegas Ignacio menentang praktik pemujaan berhala. Sungguh sebuah batasan yang sangat tipis.

Hasil investigasi saya di lapangan menghasilkan jawaban bahwa mayoritas peserta mengakui dengan percaya pada Black Nazarene, tidak ubahnya dengan percaya pada Yesus Kristus. Maricar, 40 tahun mengatakan, dirinya tetap percaya dan beriman pada Yesus Kristus, hanya saja ia membutuhkan sebuah penguat akan kepercayaannya itu. Lalu ia menegaskan, percaya pada Black Nazarene bukan berarti ia menyembah berhala, ia mengikuti prosesi ini sebagai ungkapan syukur pada berkat yang telah ia alami dalam hidupnya.

Berdasarkan catatan sejarah, patung Black Nazarene dibawa dari Mexico ke Filipina pada tahun 1606. Awalnya sama seperti patung Yesus Kristus lainnya, patung ini berwarna putih sesuai dengan gambaran global Yesus Kristus. Kemudian kebakaran hebat terjadi di kapal yang membawa patung ini dan bukannya terbakar habis, api dari kebakaran malah mengubah warna patung ini menjadi kehitaman. Sejak saat itu, patung ini dikenal sebagai Black Nazarene. Pada tahun 1650, Paus Innocent X di Vatikan mendukung penyembahan pada Black Nazarene. Patung ini telah mendiami tempatnya sekarang sejak tahun 1787 dan berhasil selamat dari berbagai bencana seperti kebakaran, gempa bumi dan perang dunia ke dua.

Apakah lolosnya Black Nazarene dari berbagai bencana adalah sebuah kebetulan, atau ia memang memiliki mujizat seperti yang dipercaya orang. Entahlah, tapi melihat histeria pemujanya untuk menyentuh, mencium dan melihat dari dekat, Black Nazarene sudah menjadi sebuah idola. Akal sehat sudah tidak bermain disini, pemujanya rela berdesak-desakan dengan resiko kehilangan nyawa, demi berdekatan dengan sang idola. Begitulah manusia, selalu mencari sosok konkret dengan dalih untuk menajamkan keimanan mereka.

Published in JalanJalan Magazine.

Ed: September 2013

Categories: Experience, Philippines experience, Travel | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

I help you and others will help me

Yesterday, on my way back to Jakarta from Manila, i took SQ flight. I departed from Manila in early morning and arrived in Spore in mid days, my next flight to Jakarta was the last flight, its around 10pm. So i had more or less 10 hours transit in Singapore. I intentionally transit in SIngapore, because i wanna go to the city to buy books and taking pictures in Singapore. I was traveling alone and depending highly on Singapore’s map.

 

My first destination was Bras Basah complex, because I’ve heard this is the center of second hand books.

So, in the MRT i asked a girl that sit beside me, about how to get there, because i couldnt find it on the map. The girl is a Singaporean, but she has been lived in Dubai for 7 years, so, she doesn’t know whether the new MRT line is already open or not. Then, another young woman approached us and gave me a new MRT map, she’s also explained how to go there and then she just left. Wow….it is really unexpected.

After that, I and the Singaporean girl chat along the trip and sadly we have to separate in Paya Lebar station, because of her destination was China town and i had to take the new MRT line. Too bad, i didnt ask her contact, because she’s really a nice person.

 

Then, in Marina Bay Mall, to be exact in information desk, i met a couple from New Zealand. They wanted to go to Sentosa and asked the route to a girl in information desk, but the girl only can help the route of the bus. So, since i have visited Sentosa, i know a little about it and i helped them to go there. Not only that, we were taking the same bus’ route and chat.

 

On my way back to airport, still in MRT, an old man approached me and asked me in Mandarin about what’s route of the MRT that we were taking; suddenly he realized that he took wrong route. So, again I helped him how to go back and what’s line that he should take. Again, we chat…..

 

Its really unexpected experiences, i only spent 10 hours but i got “partners” along the journey and sharing experiences.

I think after this, i should consider to travel alone, because adventure is outhere :)

December  16th, 2010

Categories: Travel | Leave a comment

GendingKedis

Tempat ini menjadi pilihan kami saat honeymoon di Jimbaran, Bali.

Tempatnya terpencil dan sepi, cocok buat honeymooners.

Service di tempat ini bagus banget, pelayanannya ramah dan cepat.

Spa di villa, harus dicoba, karena bener – bener enak, ampe ketiduran :p

Villanya bagus dengan 2 kamar tidur, dapur dan living room.

Categories: Travel | Leave a comment

Ada apa di Halimun 2

Stand in, sambil nyemplung....

Taman Nasional Gunung Halimun ini menyediakan beberapa spot perkemahan. Atau bila ingin menikmati suasana pedesaan, bisa menginap di rumah penduduk. Saat itu, rencana awalnya kami ingin membuat kemah, namun karena ada kesalahan teknis pada tenda yang dibawa, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah warga yang memang disewakan.

Dinding kamarnya terbuat dari anyaman rotan. 1 kamar bisa dihuni 3 orang, karena ada ranjang dan kasur lebih.

Hari itu, setelah berjalan kaki seharian, kami cukup lelah. Sehingga kami memutuskan untuk meminta warga setempat memasak makan malam, kebetulan kami membawa bekal sendiri, karena sudah bersiap untuk tinggal di kemah.

Jadilah, malam kedua kami di Halimun, dihabiskan dengan menikmati makan malam di beranda seorang warga. Entah masakannya yang lezat, atau suasana yang asik atau kami kelaparan, aku makan banyak malam itu. Padahal menunya hanya kornet dan ikan sarden, serta tahu tempe.

Wuah….nikmatnya dunia…

Kehidupan warga di sini, sangat sederhana. Kebanyakan dari mereka bekerja di perkebunan teh atau menjadi staf taman nasional. Lewat maghrib, aktivitas mereka kebanyakan di rumah.

Warga disini belum terjamah aliran listrik dari PLN, dan mereka menggunakan pembangkit listrik tenaga air (microhydro) sebagai sumber tenaga. Di sekitar desa ada aliran sungai yang tenaganya bisa dipakai.

Setelah penat dengan kehidupan perkotaan, sekali-kali merasakan kesederhanaan kehidupan di desa, menyenangkan sekali. Udara yang segar dan bersih, suasana yang tenang, hubungan kekerabatan yang ramah…indahnya dunia…

Masyarakat sini pun tidak perlu memikirkan tagihan air bersih, karena air selalu mengalir 24 jam tanpa henti. Aku saja, benar-benar menikmati ritual mandi disini. Uughh..kalau dibayangkan, ingin sekali kembali kesana.

Sayangnya waktu kami tak banyak dan harus segera kembali ke Jakarta. Tapi tempat ini, benar-benar aku rekomendasikan untuk pencari ketenangan.

Jarang-jarang bisa liat camera trap di hutan...

Akses menuju tempat ini dari Jakarta, memang sangat jauh dan sekitar 19 km terakhir atau bila ditempuh dengan mobil memakan waktu 2 jam, jalanan yang dilalui berbatu. Tidak ada jalanan beraspal dan mulus menuju tempat ini. Setelah dicari tahu, ternyata hal ini memang disengaja oleh pihak TNGH, agar pengunjung yang datang kesini, benar-benar pengunjung yang berminat untuk menikmati alam dan menjaganya. TNGH adalah hutan konservasi, bila terlalu banyak pengunjung yang datang kesini, tentu habitat di sini bisa rusak. Mungkin saja di masa depan tidak ada lagi owa jawa, macan tutul dan burung elang jawa.

Halimun, 25 – 27 Juni 2008

Categories: Travel | Leave a comment

Keindahan Halimun

Macan tutul, tak pernah terbesit dalam benakku untuk bertemu langsung, atau berada dalam lingkungan yang begitu dekat dengan keberadaannya. Namun, ini kualami ketika berada di Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Saat itu, aku ke TNGH dalam rangka pembuatan dummy program baru. Aku dan team diajak melihat camera trap, yang sengaja ditempatkan di tengah hutan untuk melacak keberadaan macan tutul. Pihak TNGH sedang melakukan penelitian populasi macan tutul di lingkungan TNGH. Camera trap ini, sebenernya adalah kamera poket biasa yang dilengkapi fasilitas infra merah yang mendeteksi panas tubuh. Jadi kalau mendeteksi adanya mahluk hidup, kamera ini akan mengambil gambar secara otomatis.

Sepanjang jalan menuju camera trap, kami ditemani oleh 2 orang ranger. Sambil jalan, mata mereka tak pernah lepas mencari jejak macan atau tanda-tanda kehidupan hewan liar lainnya. Mereka pun tak henti-hentinya memberitahu kami semua hal yang mereka temui. Ada jejak macan tutul, sarang babi hutan, sarang macan tutul, dan berbagai macam kotoran hewan yang menjadi penunjuk bagi ranger ini akan kehidupan liar di dalamnya. Bagi kita yang awam, hal seperti ini memang tidak berguna, tapi bagi penelitian, semua hal yang kita temui disini, berguna sangat besar bagi penelitian mereka. Hutan yang kami masuki juga masih asri, semak belukar masih tinggi, sehingga kita harus menggunakan tangan untuk membuka jalan, jalannya pun hanya jalan setapak kecil yang biasa digunakan ranger untuk patroli.

Hutan konservasi

Taman Nasional Gunung Halimun, berbeda dengan taman nasional lainnya yang ada di Jawa Barat. Hutan disini, masih asri karena memang ditujukan sebagai hutan konservasi. TNGH merupakan tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah, hutan sub-montana dan hutan Montana. Hutan ini juga merupakan perlindungan fungsi hidrologis di kabupaten Bogor, Lebak, Sukabumi, bahkan Jakarta.
Tumbuhan yang mendominasi adalah Rasamala ( Altingia excelsa), Jamuju (Dacrycarpus imbricatus) dan Puspa (Schima wallichii).

Keasrian hutan ini bisa dilihat dari beberapa satwa langka yang masih bisa ditemui disini, macan tutul, owa jawa, elang Jawa dan dua jenis burung lainnya yang terancam punah yaitu burung cica matahari, dan burung poksai kuda.

Di kawasan taman nasional ini ada sebuah stasiun penelitian yang dibangun oleh peneliti Jepang. Stasiun penelitian ini, berada di sebuah lokasi yang disebut Cikaniki. Bangunannya terbuat dari kayu, khas rumah tradisional Jepang. Salah satu keunggulan dari bangunan ini adalah suhu di dalamnya cukup nyaman. Dalam artian bila suhu di luar bangunan dingin sekali, maka di dalam rumah suhunya tidak akan terlalu dingin. Begitu juga sebaliknya bila suhu panas, di dalam tidak akan terlalu panas. Rahasianya terletak pada lapisan atap yang memiliki 7 lapisan.

Di dalamnya selain ada pusat penelitian, juga ada wisma tamu yang bisa digunakan oleh wisatawan. Kami sempat menginap disini semalam.

Menelusuri hutan

Di TNGH juga ada jamur yang bisa berpendar di malam hari. Karena penasaran seperti apa wujud dari jamur itu, kami menyempatkan diri untuk melihatnya. Jadilah malam-malam masuk ke hutan. Sayangnya, saat itu adalah musim kemarau, sehingga tidak banyak jamur yang bisa ditemui. Jamur ini akan tumbuh banyak dan besar saat musim hujan.

Menelusuri hutan di malam hari ternyata seru dan menyenangkan.

Kami juga sempat melihat aktivitas kehidupan satwa di malam hari seperti musang yang sedang makan dan beristirahat.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Tujuan hari kedua kami di TNGH adalah menuju canopy trail dan menelusuri hutan mneuju bukit Andam (1350 m dpl).

Canopy Trail disini dibangun diantara 5 pohon rasamala. Ketinggiannya mencapai 25 – 30 meter. Canopy Trail ini digunakan untuk pengamatan burung dan satwa yang hidupnya di pucuk pohon seperti owa, dan jenis kera lainnya. Sayang, aku tidak sempat melihat owa Jawa, walau pemandu kami sudah mencari dengan seksama, tetap saja sang Owa tidak memunculkan sosoknya.

Rute berikutnya adalah menuju puncak Andam. Disebut demikian karena di puncak bukit bertebaran pohon Andam.

Sepanjang perjalanan dari Cikaniki ke bukit Andam, ada sebuah spot yang menjadi pusat penelitian disebut spot Suzuki, karena Suzuki adalah orang Jepang pertama yang melakukan penelitian di tempat ini. Jalur dari Cikaniki menuju spot Suzuki, masih lumayan mudah, karena ada jalan-jalan setapak yang memang snegaja dibuat untuk memudahkan peneliti. Di tempat inilah kami sempat beristirahat, setelah berjalan kaki selama 1 jam lebih.

Perjalanan dilanjutkan lagi menuju bukit Andam. Jalur yang kami lalui mulai terlihat cukup sulit. Jalanan menanjak, hutan lebat dan licin. Kira-kira kami berjalan selama 45 menit, dengan medan yang menanjak. Kami cukup ngos-ngosan. Bahkan sempat berhenti beberapa kali. Perjalanan ini dipersulit karena kami harus mengambil gambar juga. Sebuah pekerjaan ekstra bagi kameraman kami. Tapi hebatnya dia dengan lincahnya berlari kesana kemari.

Ketika tiba di bukit Andam, kami segera dibuat lupa perjalanan yang sangat berat tadi. Pemandangan begitu indah, di depan kami adalah hamparan kebun teh. Kami berdiam disana sekitar 1 jam, rasanya berat sekali meninggalkan tempat yang indah itu. Apalagi kami masih harus menempuh perjalanan pulang, sekitar 2 jam.

Perjalanan pulang, cukup jauh karena kami memutar dan tidak lagi menuju CIkaniki, tapi menuju bumi perkemahan di Cintalahab. 60 persen dari jalur pulang yang kami lalui adalah hutan belantara yang hanya ada jalan setapak. Bahkan kalau kita di lepas sendirian di hutan, tidak akan tahu jalan pulang, karena jalan setapaknya jarang digunakan dan benar-benar tersamar. 40 persen sisanya adalah jalur penelitian, yang sering digunakan.

Sepanjang jalur penelitian, aku memperhatikan ada banyak pita-pita yang menandakan bahwa pohon ini sedang diteliti. Sempat kami melihat sebuah pohon rasamala yang konon adalah pohon terbesar di TNGH ini. Usianya sudah ratusan tahun, untuk memeluk batang pohonnya harus 4 orang. Terbayang kan seberapa besar pohon itu.

Di hutan ini aku juga diperkenalkan pada berbagai macam tumbuhan obat yang memiliki banyak khasiat. Ada yang bisa menahan haus, ada yang untuk keperkasaan, ada lagi untuk pengurang demam dan lain-lain.

Lumayan, perjalanan kali ini menambah infomasi mengenai tanaman obat.

Ohya, sudah menjadi peraturan disini, bahwa pengunjung tidak diperkenankan mengambil atau membawa keluar apapun dari taman nasional ini. Pelanggar akan dikenakan sanksi yang ditetapkan oleh pihak TNGH.

To be continued…

Categories: Travel | Leave a comment

Mengejar Mentari di Halimun

Sahabat alam team....abis ngambil sun rise...foto-foto dong...ada Fevo n Mas Nanang

hhmmm....

Pagi masih terlalu dini…

Mentari pun belum menyembulkan sinarnya…

Di sebuah kamar berdinding anyaman rotan, aku masih menikmati hangatnya sleeping bag dan indahnya bunga mimpi.

Sekitar pukul 5 pagi, alarm dari handphone, tak henti-hentinya berdering.

Aaghhh…Memaksaku keluar dari kehangatan sleeping bag.

Segera, sambil tetap mengenakan kaos dan celana training yang kupakai tidur, aku meninggalkan bilik anyaman rotan tersebut.

Tiba saatnya untuk mengejar matahari.

Bersama 4 orang lain, kulangkahkan kakiku di rerumputan yang basah karena embun. Hanya berbekal lampu senter, kami berjalan dalam gelap. Melintasi hamparan kebun teh.

Jalan yang kami lalui, hanyalah jalan setapak yang biasa digunakan oleh warga sekitar dan pemetik teh. Tak heran, jalanan hanya muat untuk 1 orang, basah karena embun, licin dan menanjak curam.

Kami harus naik sampai ke jalan besar, lalu naik lagi hingga tiba di sebuah lapangan bola di puncak bukit.

Buatku yang lahir dan besar di kota, melintasi jalanan seperti ini butuh perjuangan ekstra. Napasku pun sudah tak terkontrol, ngos-ngosan…

Kakiku sudah terasa berat untuk melangkah. Namun, melihat puncak yang sudah hampir tiba, dan bayangan akan indahnya mentari terbit di Halimun, memompa semangatku untuk terus berjalan.

Aaghh..akhirnya tiba juga, tak terlukis betapa leganya aku ketika tiba di puncak bukit itu.

Betul saja, di sebuah lapangan bola yang berada di atas bukit, aku melihat hamparan perbukitan di belakangku dan di depanku, semburat merah mentari pagi baru terlihat samar…

Aku dan 2 temanku, menikmati indahnya pagi di pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat.

Sebuah awal yang indah untuk memulai hari di Halimun…

27 Juni 2008

Categories: Travel | 1 Comment

The art of Driving

Hmmm….masih di hari Minggu yang sama. Usai dari gereja aku janjian ma yanti dan Yenny di Grand Indo, rencananya mau nonton Narnia…

Hari itu, ga seperti biasanya aku nyetir sendiri seharian. Ga sengaja, aku liat ada kaset jaman jadul di mobil. Kaset ini, sering banget aku puter masa SMP dulu….

Iseng aja aku nyalain…wuah..ternyata lagunya bener-bener lagu kesukaan dulu, judulnya Babe, dari Take That. Jadilah sepanjang jalan aku bernostalgia sendirian, sambil nyanyi-nyanyi.

Hua..baru kali ini mengerti nikmatnya nyetir mobil…biasa bawaan kalo nyetir mah stress..macet..ato banyak motor dan angkot yang seradak seruduk.

Jadi ngerti deh napa Bajaj demen banget nyetir. ternyata enak toh hehehe….

So, Babe, nanti kalo kita mo keliling Philippine, kita nyetirnya gantian ya. Tapi mulai sekarang, kamu musti sediain dulu tuh lagu-lagu asik…misalnya Beatles, Take That, ato apalah yang enak-enak dan variasi ya musiknya :p

Masa di mobil cuma ada lagu Avril, lagu gereja ama Bossanova? Cepet bosen hehehehe….

Office, 28 Mei 2008

Categories: Travel | 2 Comments

Public space

Siang itu, cuaca cukup terik. Berdasarkan papan temperatur di depan Mangga Dua Square, hari itu, suhunya 42 derajat. Tak perlu melihat papan temperatur saja, aku sudah merasa udara yang sangat menyengat. matahari bersinar sangat terik.

Aku dan beberapa teman, hari itu sudah sepakat untuk berjalan-jalan di seputar kota tua, Kota. setelah berjalan-jalan, akhirnya tiba juga di tujuan akhir kami, Museum Fatahilla. Setelah sempat eksplore tempat ini, kami habiskan waktu dengan jajan di pinggiran. Ketoprak, jadi pilihanku, maklum makanan favorit…..

Sambil makan, aku melihat ada banyak orang berlalu lalang dengan kostum yang berbeda-beda, dan selalu diiringi dengan fotografer. Sekelompok anak SMA dengan kostum berbeda pun, ramai bergerombol. Sepertinya mereka sedang foto untuk year book.

Ada pula pasangan yang sedang foto pre wedding.

Aku melihat bermacam orang dengan berbagai kepentingan, mereka habiskan siang itu di halaman museum Fatahillah.

Menyenangkan juga menikmati waktu libur dengan hal berbeda. Bila biasanya dengan mengunjungi mall, dan menikmati kekayaan duniawi. kali ini aku coba untuk membumi, melihat warga kebanyakan menghabiskan hari libur mereka.

Andai jakarta memiliki lebih banyak ruang umum terbuka seperti ini. Mungkin konsumerisme tidak akan terlalu mengakar kuat seperti sekarang…

Office, 17 Mei 2008

Categories: Travel | 1 Comment

Perjalanan Menembus Waktu

gerbang masa lampauSafe deposit box

Gedung putih itu, melambangkan keanggunan khas masa lalu…

Kemegahannya seakan terus berbisik memanggilku untuk menghampirinya tiap kali aku melintas….

Sudah setahun ini, aku selalu melewatinya. Namun baru hari ini aku sempat menyambut ajakannya untuk mampir….

Seperti yang ku duga, interior dalam gedungnya pun tak kalah mewah dan indah. Nama gedung ini Nedelandsche Handel Maatschappij NV. Sekarang namanya Museum Mandiri.

Begitu kakiku melangkah masuk, aku seperti terbius, memasuki sebuah masa yang lampau dan terlupakan. Kakiku mengayun ringan dalam sebuah ruangan luas. Kucoba membayangkan aktivitas di ruang kasir yang luas ini. Aktivitas manusia masa lalu, bagaimana kehidupan mereka, pakaian apa yang mereka kenakan, bagaimana permasalahan mereka saat itu…

Wuah, bayangan itu menari lincah dalam anganku. Sayup-sayup aku mendengar deru desing kendaraan yang lalu lalang di luar sana. Hanya suara itulah yang mengingatkanku, bahwa aku exist di masa kini, bukan di masa lampau.

Kaki pun mengayun menuruni sebuah tangga. Ternyata ruang di bawah itu adalah brankas dan Safe deposit Box. Sebuah pintu besi seberat 5 – 6 ton, menunggu untuk kumasuki. Suasana seram pun, tak ketinggalan. Aku pernah mendengar cerita, bahwa di ruang ini dulunya pernah dijadikan penjara, dan banyak orang yang meninggal di dalamnya. Sungguh membuatku merinding..

Ruang Safe deposit box, dipenuhi dengan lemari-lemari deposit box yang hingga kini, kondisinya masih utuh dan kokoh. Benar-benar membuatku kagum. Bahkan aku merasa, safe deposit disni lebih kuat dibandingkan safe deposit masa kini.

Ruang bawah tanah gedung ini, memang dibangun lebih kokoh dibandingkan bagian atasnya. Mungkin karena fungsinya sebagai tempat penyimpanan.

Puas mengeksplore tempat ini, aku melangkah ke atas, ke ruang utama direksi. Dekorasi disini lebih mewah, yah tentu saja namanya juga ruang direksi…

Sebuah meja bundar yang indah, ditempatkan di tengah ruang ini. Di sisi kiri dan kanannya ada ruang rapat yang ukurannya lebih kecil.

Indah sekali…

Dari keseluruhan bangunan ini, tempat favoritku adalah ruang bawah tanah. Suasana gelap dan mistis, cukup membuatku merinding, tapi keindahannya lah yang membuatku terpesona.

Ketika kakiku melangkah menuju pintu keluar, aku seakan tersadarkan akan masa kini. Usai sudah perjalanan menembus waktu…

Realita dan permasalahan masa kini pun menghampiri untuk dilalui….

Office, 17 Mei 2008

Categories: Travel | 3 Comments

Chocolate

Chocolate…

What do you think about Chocolate?

For me, Chocolate is everything….

I love chocolate ice cream, chocolate cake, chocolate bar, chocolate color. I have many dresses, which is color is chocolate.

I love all about chocolate.

That’s why, today, in Mall of Asia, Metro Manila, I found a cakery, which name is Chocolate.

Then, I decided to try their cake.

Actually,at that time, I’m still full, but if it’s related with chocolate, then no compromises. I still have space in my stomach :p

The place is nice, because the decoration is chocolate and it’s feels homy.

The menu is interesting, they have chocolate Bailey’s cake, Kahlua’s chocolate cake, Brownies, Tiramisu. Yeah, it’s all about chocolate, even the drink also.

I decided to try Chocolate Bailey’s cake. The slice is big enough and the price is cheaper rather than in Jakarta. For 1 slice is 50 pesos (Rp. 10.000). For whole cake around 300 pesos.

But the taste is standard, the cake is too sweet, and a little bit rough.

The brownies is better than the cake.

Yeah….the cakery is disappointed me, for the taste,  Dapur Coklat is still the best.

If I saw something related with Chocolate, than that’s enough to makes me “nuts”, i have to touch it or feel it hehehe….

Chocolate, makes me feel relax and hungry hahaha….

Manila,

March, 23, 2008

Categories: Travel | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.